Sabtu, 19 Desember 2015

REVIEW BUKU TEORI-TEORI PENGEMBANGAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA, Prof. Dr. Muhmidayeli., M.Ag



BAB I
Manusia dan Dasar Pengembangan Perilaku
A.  Hakikat Manusia
Sebagi makhluk Tuhan, manusia memiliki sifat-sifat unik yang memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan dirinya dari makhluk-makhluk lain yang berada di dunia. Al-Quran memberikan isyarat-isyarat yang menunjuk kepada hakikat manusia, antara lain termuat dalam surah al-Sajadah ayat 7-9, surah al-Hajj ayat 5, surah al-An’am ayat 2, surah al-Mukminun ayat 12-16, surah al-Tin ayat 4-6.
Kata-kata umum yang dipakai untuk menunjuk sebutan diri manusia dalam Al-Quran sangat bervariasi. Paling tidak, ada tiga istilah yang digunakan untuk menyebut manusia yaitu insan, al-nas dan basyr. Perbedaaan penggunaan istilah-istilah inipun tampaknya juga menunjukan pada makna dan hakikat manusia yang berbeda pula.
Sebagai makhluk yang memiliki nalar, menjadikan manusia mampu mengamati, mengidentifikasi, menyatakan, membandingkan dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas, apa-apa yang benar dan apa-apa yang keliru dan salah dan dengannya dapat membuat keputusan-keputusan yang berharga untuk dirinya dalam rangka pengembangan kemanusiaannya.
Jika dilihat dari asal katanya ala-nus atau anisa yang berarti jinak memberikan isyarat, bahwa manusia memiliki potensi untuk mudah beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi dan lingkungan yang ada dalam alam realitas kehidupannya. Dengan sifat ini pula menunjukkan, bahwa manusia itu di satu sisi dapat mengatur, namun di sisi lain ia pun dapat pula diatur yang dengan sifatnya sedemikian menjadikan manusia dapat diubah ke arah yang lebih baik dan lebih sempurna.
Manusia dalam konteks ini dapat dimaknai sebagai makhluk Allah yang memiliki potensi untuk saling menghormati, mengghargai, hidup rukun, cinta damai dan keharmonisan di samping juga ramah lingkungan. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa perselisihan dan pertengkaran di antara manusia serta tindakan manusia yang dapat merusak tatanan alam semesta adalah semacam penyimpangan natural kemanusiaan dan atau karena adanya penekanan desakan dan atau pengekangan potensi humanitas lainnya yang saling mmendesak, sehingga sifat potensial manusia seperti yang digambarkan dalam makna ini tidak dapat teraktualisasi dalam tindakan nyata.
Tumbuh kembang kesadaran dalam diri seseorang memiliki hubungan signifikan dengan daya akal, hati dan kehendak diri manusia. Bila seseorang memiliki keinginan dan kehendak untuk mewujudkan sesuatu pada dirinya, maka ia pun akan selalu berusaha mengaktualisasikannya dalam tindakan. Percepatan tindakan manusia selalu digerakkan oleh faktor keinginan dan kehendak berbuat ini.
Dalam konteks ini terlihat, bahwa Al-Quran menunjuk manusia di sini sebgai makhluk psikis yang memiliki potensi-potensi ruhaniah yang dalam aktivitasnya saling tekait satu sama lain. Karena memang kesadaran diri memiliki keterkaitan dengan fungsionalitas akal, hati dan syahwat yang merupakan lambangan ruhaniah manusia yang menghendaki adanya unsur kebebasan dalam upaya mengaktualisasikannya, maka potensi ruhaniah ini pun meniscayakan adanya kebebasan manusia dalam bertindak, sehingga keputusan-keputusan dan atau kesimpulan-kesimpulan yang diperolehnya dari adaptasinya dengan berbagai realitas di dunia benar-benar dari diri manusia yang sejati, bukan atas pengaruh orang lain di luar dirinya.
Akal, hati dan syahwat merupakan tiga kekuatan jiwa dalam diri manusia dimana satu dengan yang lain tidak dapat dilepaskan begitu saja untuk menunjuk makna dan hakikat manusia dalam berbagai dimensi. Fungsionalitas ketiga unsur jiwa ini sangat tergantung pada aspek kesadaran dan kebebasan. Jika akal, hati dan syahwat itu merupakan kekuatan instrumental. Jadi akal, hati, syahwat, kesadaran dan kebebasan merupakan unsur jiwa yang sangat esensial dalam pengembangan humanitasnya.
Manusia dalam bentuk fisik memiliki proses pertumbuhan dan perkembangan yang sama dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang serba material yang menurut ketentuan hukum natural bersifat terbatas pada ruang dan waktu. Ini berarti bahwa manusia dalam pengertian ini adalah makhluk yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang tergantung pada proses alamiah sesuai dengan peredaran waktunya. Manusia tumbuh dan berkembang dari masa dalam rahim, balita, anak-anak, remaja, dewasa dan usia lanjut. Untuk menunjak aspek ini, manusia butuh makanan yang mengandung nutrisi untuk tumbuh dan berkembang seperti juga terdapat pada binatang dan tumbuhan.
Adapun kata Al-Nas dipakai dalam al-Quran untuk menunjuk pada komunitas manusia yang terdiri dari sekelompok orang atau individu dalam berbagai struktur sosial dan lapisan masyarakat yang mempunyai berbagai kecenderungan, keinginan dan perilaku dalam mengembangakan kehidupannya. Dalam pengertian ini, manusia dimaknai dalam pengertian umum yang mencakup kesemua orang tanpa kecuali, komunitas manusia.
Manusia pada satu sisi berhadapan dengan dirinya dan di sisi lain ia pun berhadapan dengan wujud-wujud lain di luar dirinya. Dikatakan ia berhadapan dengan sesuatu di luar dirinya karena memang manusia itu memiliki jarak dengan dirinya, sehingga ia selalu melihat dirinya dari sesuatu yang berada diluar dirinya. Bahkan dengan keluar dari dirinya ini pula, manusia dapat menemukan dirinya sendiri sebagai suatu person yang tidak tergoyahkan
B.  Kebutuhan Dasar Manusia
Dalam pengembangan humanitas manusia, dapat dianalisis melalui upaya penelaah kebutuhan-kebutuhan insaniyah dalam merealisasikan dirinya di dunia. Berikut akan dicoba untuk melihat kebutahan-kebutuhan yang esensial dalam diri manusia yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengembangan humanistik.
1.    Manusia dan Kebenaran
Manusia ketika berhadapan dengan dirinya ataupun ketika ia berinteraksi dengan berbagai realitas diluar dirinya, secara psikologis selalu menempatkan dirinya sebagai pencari kebenaran, sehingga dengan aktivitasnya sedemikian pula manusia selalu diidentikan dengan subjek yang senantiasa ingin dan cenderung pada yang baik dan benar.
Dalam islam istilah kebenaran diungkap dalam beberapa istilah dengan konteks yang berbeda yang akan menunjuk pada nilai kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh dapat dikemukakan disini kata al-haqq; kata ini memberikan tekanan maknanya pada kebenaran yang terkait dengan pemilik benar yang sesungguhnya, yaitu Allah SWT. Kata al-Shidq yang juga berarti benar lebih berkonotasi pada nilai kebenaran yang memiliki kesesuaian antara apa yangg tebangaun dalam konsep dengan realita faktual, antara ucapan dan pebuatan, anata keinginann dan kenyataan.
Kebenaran sesungguhnya telah ada sejak adanya dunia dan ia berada di luar diri manusia. Manusia bertugas mencari dan menemukannya. Oleh karena itu, kebenaran berada pada objeknya, bukan subjeknya. Atas dasar ini pulalah barangkali ada pandangan yang mengatakan bahwa kebenaran itu sesungguhnya akan selalu bersifat korespondensi antara subjek pencari kebenaran dengan objek sebagai tempat bersemayamnya data dan informasi yang dapat menghantarkan manusia pada kebenaran itu.
Manusia dan kebenaran merupakan dua hal yang identik. Jika ada manusia yang kenyataannya memilih dan berbuat ketidakbenaran dan atau kesalahan-kesalahan, hal itu sesungguhnya tidak lain adalah tindakan penyimpangan kemanusiaan di mana saat manusia dalam melakukan adaptasi keluar dirinya telah disertai oleh kehendak-kehendak dan dorongan syahwiyah melampaui alam naturalnya, sehingga yang tidak baik pun dilihat seolah-olah itulah yang terbaik dan mesti direalisasikan. Oleh karena itu, wajar jika kita melihat seorang anak manusia telah membuat sebuah kesalahan, maka ia pun akan selalu berusaha untuk menutupinya walaupun itu melahirkan kejahatan dan atau kekeliruan yang jauh lebih besar dan bahkan mungkin saja akan terjadi kejahatan beruntun.
2.    Manusia dan Kebebasan Berkehendak
Dalam surah al-Kahfi ayat 29 umpamanya, Allah SWT menegaskan :
“Dan katakanlah; kebenaran itu dari Tuhanmu, maka barang siapa yang menghendaki (beriman) ia akan beriman dan barang siapa yang menghendaki (kafir) ia pun akan kafir”
Ayat ini memberi penjelasan kepada kita bahwa sesungguhnya manusia itu memiliki hak kebebasan dalam membuat keputusan untuk dirinya. Manusia diberi hak untuk memilih atau menolak suatu pandagan atau konsep yang ditawarkan. Kebebasan manusia ini tentu bermakna bahwa manusia mesti mengaktualisasikan potensi humanitasnya sedemikian rupa agar apa yang ia putuskan dan ia lakukan benar-benar di dasari oleh pertimbangan yang dapat dipertanggung jawabkan secara syar’iy, ilmu dan moral. Orang-orang yang zalim, orang-orang pendusta dang orang-orang pengingkar realitas karena lebih mengutamakan kepentingan diri dan ataupun kelompoknya dari pada kebenaran, kebaikan dan kebajikan yang sejati, maka mereka itu tidak mungkin memperoleh kebenaran, kebaikan dan kebajikan sejati yang tentu akan berguna bagi manusia dalam mengisi kehidupannya di dunia.
Dalam membuat pilihan dan keputusan-keputusan yang berharga untuk menjalani kehidupannya, manusia membutuhkan kebebasan berkehendak, sehingga apapun keputusan yang ia ambil datang dari dirinya yang sejati, sehingga tidak ada satu pun yang dapat mempertanggung jawabkan perilakunya kecuali dirinya sendiri. Kebebasan yang di maksut disini bukanlah kebebasan syahwiyah yang selalu memiliki kecenderungan untuk berbuat melampaui alam natural manusia yang sejati, tetapi lebih pada yang rasional yang memang memiliki watak kebenaran, kebaikan dan kebajikan, dimana ketika mencari dan mengupayakan kebenaran, kbaikan dan kebajikan itu, ia tidak dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan di luar objek kajiannya, termasuk kepentingan dan kecenderungan dirinya sendiri.
3.    Manusia dan Pendidikan
Ayat yang dapat dirujuk untuk menujuk pentingnya proses panjang untuk mengisi kemanusiaan adalah firmanAllah SWT dalam al-Quran surah al-Nahl ayat 78:
“Dan Allah mengeluarkan kamu (manusia) dari perut ibumu belum mengetahui sesuatu apapun. Dan Dia menciptakan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”
Ayat di atas memberikan pemahaman bahwa manusia tidak akan dapat menjadi manusia utuh yang memiliki ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemudahan kehidupannya, jika ia belum mampu memaksimalkan fungsi instrumen-instrumen jasmani dan ruhaninya. Hanya dengan cara demikian seseorang menjadi lebih baik dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan sebagai lambang bagi dirinya.
Pendidikan dalam hal ini dapat dilihat sebagai tindakan pengupayaan manusia sejatinya, disengaja, terarah  dan tertata sedemikian rupa menuju pembentukan manusia-manusia yang ideal bagi kehidupannya, atau dengan kata lain, pendidikan tidak lain adalah segala pengupayaan yang dilakukan secara sadar dan terarah untuk menjadikan manusia sebagai manusia yang baik dan ideal.
Lembaga pendidikan merupakan hal yang strategis untuk pengembangan suatu masyarakat ke arah yang lebih baik, sehingga tidaknlah berlebihan jika dikatakan bahwa kemajuan modernitas suatu bangsa dan negara ditentukan oleh kualitas pendidikan. Karena posisinya yang centre of excellence dalam memmbangun peradaban suatu masyarakat, maka adalah suatu kemestian untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai lembaga rekayasa masyarakat ke arah yang lebih baik.
4.    Manusia dan Kehidupan Sosial
Seorang anak manusia dalam mengembangkan dan mengaktualisasikan kemampuan insaniyahnya, selain beradaptasi dengan dirinya, ia pun mesti beradaptasi dengan sesuatu di diluar dirinya termasuk individu-individu atau kelompok-kelompok masyarakat di luar dirinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang individu idak dapat lepas dari kehidupan sosial, baik konteks mikro, mezo ataupun makro. Kondisi manusia yang sedemikian menjadikan adanya tarik menarik kepentingan individu dan sosial secara terus menerus yang akan berdampak pada proses perubahan dalam suatu masyarakat yang terus berlangsung di dunia ini. Perubahan dalam konteks sosial memberi dampak perubahan model dan cara berpikir seseorang.
Penumbuh kembangan sikap sosial sebenarnya adalah cita-cita islam, karena sikap kooperatif akan jauh lebih bersifat membangun daripada sikap kompetitif. Dengan sikap sosial yang ccerdas, maka seseorang tidak akan nyaman ketika melihat masih ada yang belum cerdas, sehingga ia pun merasa berkewajiban mendidik dan menciptakan peluang agar mereka memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan dirinya. Begitu pula ketika seseorang itu merasa bahwa ia telah berkecukupan dalam harta, maka ia pun tidak rela jika masih ada orang-orang yang belum memilikinya, sehingga ia merassa bertanggung jwab untuk mengadakan perubahan-perubahan yang mensejahterakan semua orang.
5.    Manusia dan Bahasa
Sebagai makhluk yang dibedakan dari makhluk lainnya dengan kemampuan yang dimilikinya, yaitu berfikir, yang meniscayakan ia berbahasa sebagai wujud aktivitasnya, maka tidak dapat pula dipungkiri bahwa sesungguhnya bahasa adalah juga suatu kondisi yang tidak dapat dilepaskan dari sebutan manusia.
Manusia adalam makhluk yang memiliki keinginan, hasrat, cita-cita yang dalam banyak hal berhubungan dengan orang diluar dirinya, sehingga ia butuh berkomunikasi satu sama lain yang memestikan ia berbahasa. Tanpa bahasa, dapat dikatakan bahwa seseorang itu tidak akan dapat mengutarakan keinginan dan hasratnya. Bahkan banyak pakar yang mengatakan bahwa kesuksesan seorang manusia juga sangat dipengaruhi oleh kemampuannya berbahasa
6.    Manusia dan Prinsip Keseimbangan
Prof. Mukti Ali dalam salah satu tulisannya menyebutkan bahwa konotomi yang telah menimpa alam modenitas pada prinsipnya merupakan indikasi dari konotomi dalam diri manusia yang selalu tarik menarik satu sama lain. Kondisi semacam ini dapat dilihat umpamanya bahwa manusia mengakui bahwa dalam dirinya terdapat kelemahan dan kekurangan namun dalam waktu yang sama ia pun memiliki keinginan untuk memperoleh kehidupan yang lebih tinggi. Bahkan seringkali manusia itu memilih yang ia sendiri tidak menyukainya. Kecuali itu, terdapat pula banyak hal yang tidak berkesesuaian dan mungkin bertentangan dalam kehidupan manusia.
7.    Manusia dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Manusia yang bertugas sebagai ‘immarah fi al-ardh meniscayakan dirinya mengadakan pencarian terus-menerus nilai-nilai ilmu pengetahuan yang bermakna dalam konteks kemudahan kehidupannya di dunia dan di akhirat. Manusia sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan untuk selalu berada dalam kebaikan dan kebajikan, sehingga adalah suatu niscayaan bagi manusia untuk senantiasa mencari dan mempertahankannya sebagai miliknya yang hakiki dalam rupa kepribadian.
8.    Manusia dan Moralitas
Moral/akhlak adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Kualitas kemanusiaan selalu berkenaan dengan nilai-nilai moralitas yang teraplikasi dalam kehidupan nyata, baik dalam kehidupan individual dan sosial, maupun dalam bentuk hubungan dengan alam dan penciptanya. Eksistensi moralitas ini pun sangat menentukan bagi kualitas manusia sebagai agen perubahan atau pembuat sejarah.
Merujuk firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 110:
“Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah SWT”
Maka ada empat konsep yang penting yang di cakup di dalamnya, yaitu konsep tentang umat yang baik; aktivitas sejarah; pentingnya kesadaran; dan etika profetik. Sebagi subjek dan objek moral, manusia dituntuk memainkan peran proaktifnya dalam rangka menumbuhkembangkan perilaku moral dalam setiap aktivitas kehidupannya, terlebih lagi pada aktivitas pembelajaran di sekolah yang memang memiliki fungsi untuk itu.
Robert L. Ebel mengungkapkan, bahwa beberapa penyebab terpnggirkannya perhatian pendidikan sekolah terhadap penumbuhkembangan peilaku moral subjek didikya diantaranya:
1)   Bahwa dalam masyarakat telah terjadi penekanan yang amat kuat terhadap kebebasan individu daripada tanggung jawab personal
2)   Lebih mementingkan hal-hal sipil daripada kewajiban sipil
3)   Adanya semacam kecenderungan dalam masyarakat  yang melihat perubahan dan inovasi sebagai sesuat yang lebih baik dari tradisi dan stabilitas di dalam kehidupan
9.    Manusia dan Seni
Seni dalam diri manusia merupakan suatu kebutuhan dalam berbagai aktivitas agar ia merasa betah, nyaman dan senang dalam melakukannya, sehingga hasilnya pun dapat maksimal. Realitas seni selalu berorientasi pada kecantikan keelokan dan atau keindahan.
Manusia dalam segala aktiviasnya selalu terkait dengan seni, karena memang mendidik itu sendiri adalah seni. Dalam keseluruhan aspek kehidupan memang bernilai seni. Seni dapat melahirkan suasana yang tidak menjenuhkan dan menegangkan yang akan memunculkan kecemasan-kecemasan yang mengganggu proses pelaksanaan aktivitas itu sendiri. Pendeknya, seni dan manusia merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, tidak saja karena aktivitasnya yang membutuhkan nilai estetis, tetapi juga mengingat entitasnya yang memang juga akan memmbangun semangat kerja dalam diri subjek didik.
C.  Manusia, Alam dan Tuhan
Abdurrahman Saleh Abdullah menyebutkan bahwa Al-Quran menganggap alam, sejarah dan diri manusia itu sebagai kitab atau buku terbuka yang harus dibaca maknanya. Hal ini memungkinkan karena memang manusia dilengkapi dengan instrumen-instrumen yang dapat mengiringnya ke arah sana. Tanggungjawab manusialah menggunakan daya indra dan kesadarannya sebaik-baiknya agar dapat memberi reaksi terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah di alam jagad raya ini.
Alam sangat berguna bagi manusia untuk menyusun dan membangun persepsi-persepsinya tentang berbagai realitas yang akan memberinya pemahaman dan pengetahuan yang akan memudahkannya dalam menjalani kehidupannya di dunia.
Manusia yang menyadari bahwa dirinya, alam jagad raya dan Tuhannya merupakan tiga bagian yang tidak dapat dilupakan begitu saja dalam segala aktivitas kehidupannya, akan selalu mengorientasikan perilakunya pada keinginan Tuhannya, yakni dengan menjalankan secara ikhlas segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian terlihat, bahwa manusia tauhid akan selalu mengorientasikan tindakan-tindakannya baik untuk dirinya, masyarakat maupun alam jagad raya, pada pendekatan diri dengan Penciptanya. Dalam konteks inilah dapat dikatakan, bahwa manusia tauhid tidak akan pernah melupakan fungsi eksistnsialitas dirinya sebagai mu’abbid, khalifah Allah SWT fi al-ardh, dan ‘immarah fi al-ardh.
D.  Tugas-Tugas Pokok Manusia
Dalam surah al-Tin ayat 4 disebutkan bahwa manusia diciptakaan Tuhan sebaik-baik bentuk. Dengan penciptaan yang baik dan sempurna ini pulalah, menjadikan manusia layak untuk mengemban misi ilahi, baik sebagai mu’abbid, khalifah fi al-ardh dan imarah fi al-ardh.
Sebagai mu’abbid manusia dituntut tidak hanya semata-mata dalam konteks ibadah wajib seperti shalat, puasa, zakat dan lain sebagainya, tetapi juga bahwa segala sesuatu aktivitas yang bernilai baik dalam kehidupan manusia yang dilakukan dengan tujuan pendekatan diri pada Penciptaannya, Tuhan.
Sebagai khalifah fi al-ardh, manusia bertugas untuk menata dunia sedemikian rupa sehingga dapat menjadikan manusia sejahtera, damai sentosa dan bahagia. Fungsi khalifah ini tidak akan dapat berjalan dengan baik jika manusia belum menjalankan fungsi pertamanya sebagai mu’abbid. Sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi ini, tentulah berarti manusia memegang tugas menjalankan misi Tuhannya di muka bumi ini.
Sedangkan imarah fi al-ardh lebih berkonotasi pada tugas manusia sebagai pengembangan ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan manusia, tidak saja di dunia tetapi juga untuk akhirat.
Dari uraian di atas, dapat di simpulkan bahwa fungsi manusia sebagai mu’abbid, khalifah fi al-ardh, imarah fi al-ardh akan terjelma dalam sejauh mana manusia mampu menjelmakan sifat-sifat ilahiya ke dalam dirinya yang akan terwujud dalam bentuk tindakan moral. Dengan demikian manusia adalah lambang humanitas tertinggi dn karenanya mesti senantiasa dipelihara dan diaktualisasikan dalam tindakan-tindakan senyatanya.
BAB II
Potensi Pendidikan Dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia
A.  Hakikat Pendidikan
Ada beberapa istilah umum yang digunakan untuk menunjuk makna dan hakikat pendidikan islam, yaitu tarbiyah, ta’dib dan ta’lim. Kendatipun ketiga istilah ini menunjuk pada orientasi dan pendekatan yang berbeda-beda, namun ungkapannya sering ditemukan di kalangan pemikir muslim.
Penggunaan ketiga istilah di atas tentu membawa konsekuensi dan implikasi yang berbeda pula dalam pelaksanaan dan pengaturan strategi pendidikan itu sendiri. Istilah tarbiyah umpamanya, dalam pemahamanya memberikan aksentuasi kegiatanya pada proses pendidikan yang dilakukan dengan sadar dan terprogram, teratur, sistematis, penuh pertimbangan dan terarah pada suatu tujuan yang jelas. Sedemikian rupa, sehingga pemakaian istilah ini tentu pula memberikan implikasi pada pendidikan dalam konteks formal yang merupakan usaha sadar bersama setiap komponen kependidikan untuk menciptakan situasi dan kondisi edukatif sedemikian rupa yang dapat memudahkan subjek-subjek didiknya menuju tujuan-tujuan yang telah ditetapkan berdasarkan tahapan-tahapannya.
Istilah ta’dib dalamhal ini, memberikan tekanan aktivitasnya pada pemberian pembinaan perilaku secara umum, sehingga lebih tepat ditujukan untuk menyebut pendidikan dalam maknanya yang lebih luas, baik dalam bentuk formal, informal maupun nonformal.
Istilah ta’lim dalam hal ini memberikan tendensi pada proses interaksi edukatif yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka peraihan tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Istilah ta’lim ini sering digunakan untuk tidakan transfer nilai dan atau pengetahuan dari orang yang dewasa kepada subjek-subjek yang membutuhkan pengajaran.
Pendidikan dalam konteks islam adalah segenap upaya sadar bersama yang di arahkan untuk kondisi edukasional yang mendukung terlahirnya manusia-manusia sejatinya. Dari sini dapat dipahami, bahwa islam meyakini bahwa proses pendidikan mesti dilakukan bersama-sama yang dengan kesadaran masing-masing itulah tumbuh rasa tanggung jawab untuk menciptakan suasana edukasi yang benar-benar efektif dan efisien bagi pengembangan manusia. Oleh karena itu pulalah dapat dikatakan bahwa dalam melakukan kegiatan pendidikan, mestilah dengan jalinan kerja antara berbagai unsur, seperti pemerintah sebagai pengambil kebijakan, masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan, dan lembaga pendidikan sebagai pelaku pendidikan.
B.  Urgensi Pendidikan Bagi Manusia
Ayat yang dapat dirujuk untuk menunjuk pentingnya proses panjang untuk mengisi kemanusiaan adalah firman Allah SWT dalam Al-Quran surah al-Nahl, 78 yang artinya :
“Dan Allah mengeluarkan kamu (manusia) dari perut ibumu belum mengetahui sesuatu apapun. Dan Dia menciptakan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”
Ayat diatas memberikan pemahaman bahwa manusia tidak akan dapat menjadi manusia utuh yang memilki ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemudahan kehidupannya, jika ia belum mampu memaksimalkan fungsi instrumen-instrumen jasmani dan ruhaninya. Manusia secara natural melalui instrument yang disediakan untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang mampu mengamati berbagai realitas, memberikan perbedaan-perbedaan dan penggolongan-penggolongan serta interpretasi-interpretasi yang akan berujung pada kesimpulan yang berguna bagi kesempurnaan dirinya dalam berhadapan dengan realitas.
Pendidikan merupakan penyediaan kondisi yang baik untuk menjadikan perilaku-perilaku potensial yang dianugerahkan kepada manusia tidak lagi sebatas kecenderungan manusiawi an sich, tetapi benar-benar aktual dalam realita kehidupannya.
Sedemikian berartinya pendidikan bagi pemanusiaan manusia, maka sudah semestinyalah ada upaya serius untuk menata lembaga pendidikan itu sedemikian rupa agar dapat dipersiapkan percepatan pencapaian cita-cita luhurnya, yaitu “pemanusiaan”
Lembaga pendidikan merupakan hal yang sangat strategis untuk pengembangan suatu masyarakat ke arah yang lebih baik, sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa kemajuan modernitas suatu bangsa dan negara ditentukan oleh kualitas pendidikan. Karena posisinya yang centre of excellence dalam membangun peradaban suatu masyarakat, maka adalah suatu kemestian untuk menjadikan lembaga rekayasa masyarakat ke arah yang lebih baik.
C.  Moralitas Pendidikan
Moralitas adalah lambang humanitas tertinggi manusia, karena memang ia diciptakan untuk itu. Potensi psikis berupa akal, hasrat, kemauan, keinginan dan perasaan mesti diarahkan untuk mampu berimajinasi, berkreativitas dan membuat perubahan-perubahan dalam kehidupannya yang berdimensikan nilai-nilai moral yang tinggi.
Dalam islam, apa yang menjadi tujuan penciptaan manusia, maka itu pulalah yang menjadi cita-cita atau tujuan pendidikannya. Mengingat tujuan penciptaan manusia adalah untuk moral, maka tentu penyempurnaan moralitas adalah juga menjadi tujuan dan sekaligus hal yang esensial bagi pendidikan itu sendiri.
Sekolah dalam hal ini dapat dianggap sebagai area yang paling utama dalam proses rekayasa dan perubahan dari pada lembaga keluarga dan lingkungan. Jadi, sekolah merupakan instrumen yang paling penting dan efektif untuk percepatan dan pengembangan suatu masyarakat. Yang msti menjadi perhatian kita semua adalah bahwa sistem pendidikan sekolah hanya mampu menghasilkan tujuan ideal jika misi sekolah berkorelasi dengan kebijakan pemerintah yang akan mempercepat terjadinya akselerasi pembangunan dan pengembangan masyarakat.
Pendidikan yang dikelola dengan moral, memestikan pengembangannya diarahkan pada pembentukan kemampuan memahami suatu ilmu pengetahuan yang diiringi dengan kemampuan pengapresiasian nilai-nilai moral yang ada dalam ilmu pengetahuan tersebut.
Eksistensi sekolah yang memang memiliki korelasi signifikan dengan tranformasi masyarakat, menjadikan nilai-nilai moral sebagai identitas manusia, tentunya mesti mendapat tempat terdepan dalam oriensi dan proses kependidikan sekolah. Realitas eksistensial seperti ini meniscayakan pendidikan persekolahan selayaknya mesti menjadikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diberikan senantiasa sebagai wahana realisasi nilai-nilai moral. Hal ini sangat penting untuk pengembangan watak manusia dalam menghasilkan budaya selalu bergerak dari interaksinya dengan kondisi-kondisi yang mengitarinya.
D.  Pendidikan dan Nilai
Pendidikan sebagai suatu kegiatan mulia dalam Islam selalu mengandung nilai-nilai kebaikan dan kebajikan bagi kemanusiaan, karena memang aktivitasnya selalu hendak menjadikan manusia sebagai makhluk yang bernilai moral, baik dalam fungsinya sebagai mu’abbid, khalifah fi al-ardh maupun immarah fi al-ardh. Dalam konteks pendidikan islam, nilaii-nilai moral keagamaan menjadi bagian integral dalam setiap gerak usaha kependidikan yang secara struktural formal tidak hanya tercantum dalam tujuan institusional pendidikan saja, tetapi hendaknya juga terjalin erat dalam setiap denyut nadi aktivitasnya.
Nilai dalam konteks Islam terbagi kepada dua hal, yaitu yang tetap dan tidak tetap. Yang ppertama disebut dengan nilai-nilai yang wajib yang entitasnya telah disepakati dan jelas; nilai mutlaq, sedangkan yang kedua bersifat fleksibel dan lahir dari dinamika masyarakat; nilai muqayyad.
Pada hakikatnya, nilai tidaklah timbul dengan sendirinya, karena ia menunjuk pada sikap penerimaan atau penolakan seseorang atau sekelompok orang terhadap suatu realitas hubungan subjek-objek yang prosesnya tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan dan wawasan subjek penentu nilai. Oleh, karena itu, nilai akan selalu berkembang dan berubah seiring dengan kecenderungan dan sikap mental individu-individu dalam suatu masyarakat. Hal ini terkit erat dengan upaya kependidikan sebagai wadah perubahan dan perbaikan perilaku yang secara niscara akan menentukan sikap hidup seseorang dan masyarakat.
Tujuan sesungguhnya dari pendidikan moral adalah penyerahan jiwa pada Tuhan. Anak harus diajar menjaga jiwanya dalam keadaan yang baik, yakni dengan mengisinya dengan kebesaran Tuhan dan terlepas dari dosa besar. Anak harus mengupayakan perilaku yang baik dan menghindari yang jahat, bukan karena akal mereka yang memang menolaknya, tetapi juga karena Tuhan tidak menghendaki perbuatan itu. Dengan demikian, keinginan mesti dibiasakan untuk membuat pilihan-pilihan nilai yang baikdan benar untuk dirinya agar ia menjadi subjek yang dapat mempertanggung jawabkan apa pun yang dilakukannya di dunia ini. Untuk membiasakan nilai dalam diri seseorang dibutuhkan upaya disiplin untuk mengiliminasi kebiasaan yang buruk akan mengembangkan kebiasaan yang baik.
Orientasi dan arah bangun pendidikan sangat terkait dengan pemahaman dan konsep nilai yang menjadi landasan pengembangannya. Kelompok idealis rasionalis umpamanya akan mengaksentuasikan upaya-upaya kependidikannya dalam pengembangan kesadaran diri akan nilai-nilai kebaikan dan kebjakan yang akan berpengaruh dalam kehidupan subjek didiknya. Kelompok realisme akan memberikan perhatian pendidikan pada hal-hal yang berkenaan dengan berpikir natural dan realitas. Sedangkan kelompok pragmatisme lebih mengutamakan hal-hal yang dapat berhasil guna secara praktis dalam kehidupan nyata.
E.  Interaksi Edukasi dan Pengembangan Watak Insaniyah
Proses pendidikan identik dengan proses pengembangan yang berorientasi pada upaya pembangkitan potensi dasar manusia yang biasa disebut dengan watak kemanusiaan (insaniah). Pendidikan bukan sekedar upaya-upaya yang dilakukan untuk meraih standar pembelajaran tertentu, tetapi lebih jauh dari itu, bahwa pendidikan identik dengan upaya mengembangkan keinginan dan dorongan seorang atau sekelompok orang untuk belajar, sehingga dengan pendidikan memunculkan semangat ingin tahu dan mempelajari realitas secara terus menerus dengan kata lain, pendidikan memiliki arti lebih pada proses mengaktifkan potensi-potensi positif yang dimiliki manusia agar ianya tumbuh dan berkembang sesuai dengan watak insaniahnya yang sejati. Eksistensinya sangat tergantung pada interaksi yang dulakukan untuk itu.
Dalam sistem pembelajaran seseorang senantiasa melibatkan lima sistem yaitu pembelajaran melibatkan emosional, sosial, kognitif, fisik dan reflektif. Kelima sistem ini selalu melihatkan hubungan-hunungannya dalam pembentukan proses pembelajaran dalam diri seseorang. Oleh karena itu dalam membangun interaksi edukatif dalam setiap proses kegiatan pembelajaran guru mesti mampu memanipulasi keseluruhan sistem ini secara sedemikian rupa agar subjek didik dapat melakukan proses pembelajarannya secara baik dan maksimal.
Paling tidak ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan dalam penanaman nilai pada subjek didik. Berikut digambarkan hal-hal penting yang secara esensial sangat menentukan capaian nilai pada subjek didik
1.    Pelibatan Unsur Emosional Dalam Sistem Interaksi Edukatif
Kecerdasan emosi ini sangat diperlukan oleh subjek didik untuk menumbuhkembangkan rasa kesadaran dan tanggungjawab yang tinggi dalam melaksanakan apa saja yang memang perlu dilakukan. Hal ini dapat meningkatkan minat dan motivasi subjek didik untuk mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan.
2.    Interaksi Edukatif Sebagai Pengembangan Kecerdasan Sosial
Kecerdasan sosial sebagai kemampuan membina hubungan antar dan interpersonal ini dapat pula menjadikan seseorang itu memiliki kemampuan dalam mengorganisasi kelompok, kemampuan menerima perbedaan, kemampuan bekerja sama dengan orang lain, kemampuan memprakarsai, mengkoordinir, berkolaborasi, serta mampu menciptakan sinergi dalam menyelesaikan pekerjaan dalam team dan lain sebagainya.
3.    Interaksi Edukatif Dalam Pembelajaran Kognitif
Dalam interaksi edukatif pemerosesan pembelajaran kognitif ini biasanya dengan melibatkan unsur-unsur indria subjek didik sedemikian rupa agar dapat membuat persepsi-persepsi atas berbagai informasi langsung dari realitas dan ataupun yang hadir dalam rupa bangunan teori-teori.
Interaksi edukatif dalam pembelajaran kognitif memang menuntut keterampilan guru mendorong subjek didik untuk melakukan pembelajaran baik melalui eksperimen-eksperimen maupun dengan pemberian informasi kognitif dan lain sebagainya yang turut mempercepat terjadinya proses pembelajaran pada diri anak. Yang jelas, interaksi edukatif mesti diberikan dalam hal ini adalah bagaimana subjek didik menjadi berupaya dengan serius memperhatikan setiap interaksi yang diberikan untuknya
BAB III
Pengembangan Intelektualitas Manusia
A.  Eksistensi Akal dalam Diri Manusia
Lambang utama kemanusiaan adalah rasionalitas yang meniscayakan fungsionalitas akal dalam diri manusia. Akal merupakan potensi berpikir manusia yang membedakan dirinya dengan makhluk-makhluk lain di luar dirinya. Akal memampukan manusia mencerna dan memahami berbagai tanda-tanda, lambang-lambang yang ada dalam keseluruhan realitas yang sangat berguna bagi kehidupan manusia itu sendiri. Akal dapat memperkukuh eksistensi manusia di dunia dalam kaitannya dengan alam semesta dan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak dapat dilepaskan.
Kekuatan akal ini yang memampukan manusia melakukan perbuatan pemikiran intelek yang dengannya menjadikan manusia dapat menyadari dan membangun dunianya yang implikasinya tampak pada rupa perbuatan meyakini , mengakui dan mempercayai adanya hubungan denpendensidirinya dengan alam dan Tuhan sebagai pencipta. Dikatakan ia memiliki hubungan dengan alam , karena memang eksistensi dirinya sebagai makhluk yang berakal dalam aktivitas fungsionalnya memerlukan realitas objektif yang berada di alam, baik yang berkenaan dengan alam fisik maupun non fisik yang temuat dalam ruang faktual ataupun historis manusia
Firman Allah dalam surah Al-Kahfi ayat 29 yang artinya :
“Dan katakanlah kebenaran itu dari Tuhanmu, maka siapa yang ingin beriman maka tentulah ia akan beriman, dan siapa menginginkan kafir, maka ia pun akan kafir”
Firman Allah SWT ini mengisyaratkan bahwa kebenaran yang sesungguhnya (al-haq) itu datang dari Allah SWT dan oleh karena itu perlu ada prjuangan yang terus menerus dari diri manusia untuk dekat pada pemiliknya, Tuhan Rabb’ izzati. Tingkat keimanan dan keyakinan seseorang pada Tuhan Rabb’ izzati sangat tergantung pada kualitas  pemahaman dan pengetahuannya pada eksistensi Tuhan sebagai maha pencipta dan penguasa di mana hukum-hukum humanitasdan alah tunduk pada hukum-hukum Tuhan sang pencipta, Iman dalam hal ini adalah realisasi petunjuk (hudan) Tuhan kepada diri manusia.
Kualitas humanitas manusia ditentukan oleh kualitas akal sebagai instrument kemanusiaan dalam mencari kebenaran sejati. Tuhan telah menganugerahkan dua instrument pada diri manusia untuk mencapai kebenaran, yaitu akal dan Rasul. Akal sebagai instrumen yang berada di dalam diri manusia itu sendiri, yang dengannya memampukan dirinya dapat mendeskripsikan, menyatakan, memilah-milah, membedakan dan menghubungkan berbagai realitas yang kesemuanya sangat berguna dalam membuat suatu kesimpulan dan atau keputusan sebagai suatu kebenaran. Rasul merupakan instrumen lain yang dapat menghantarkan dan atau menyampaikan manusia pada kebenaran dari luar diri manusia.
Pengakuan muslim bahwa iman adalah realisasi ketauhidan manusia tentulah memiliki implikasi dan konsekuensi terhadap penegakan nilai-nilai moral yang tingg dan mulia. Penumbuh kembangan perilaku moral manusia selalu berkenaan dengan sejauh mana ia menyadari, bahwa perilaku itu harus dilakuakan. Kesadaran dalam hal ini adalah bukti nyata dari sebuah keyakinan mendalam seseorang atas sesuatu yang dalam bahasa agam disebut dengan iman.
Eksistensi akal sangat diperlukan manusia dalam menata kehidupan sedemikian rupa sehingga ianya dapat menjadi dirinya yang sejati yaitu pribadi yang selalu membina kebaikan ada dan senantiasa ada dalam dirinya sehingga menjadi pribadi yan sempurna.
B.  Akal dan Realitas
Sebagai makhluk rasional, manusi ditandai dengaan fungsionalisasi daya akal sedemikian rupa untuk menemukan dan menentukan jati dirinya dalam berhadapan dengan manusia-manusia lain, alamm dan Tuhan sebagai suatu yang terkait bagi penyempurnaan dirinya. Pemahaman sebagai lambang aktivitas akal manusia memestikan akal dirinya berhadapan  dengan realitas. Bahkan ketika manusia hendak mengenal dan memahami dirinya sendiri, ia mesti menempatkan dirinya sebagai realitas yang akan menjadi objek kajian akalnya.
Terminology ontologi Immanuel Kant umpamanya memberikan ketegasan bahwa realitas dalam dua dikotomi, nomena dan fenomena. Dalam hal ini, teorinya mengindikasikan bahwa fenomena hanyalah sekedar sesuatu gejala yang tampak di depan subjek, tetapi ia bukanlah merupakan realitas yang sesungguhnya, karena yang real adalah yang berada dibelakang dan atau di balik apa yang dilihat dan berada didepan kita. Itulah yang realitas yang hakiki, nomena.
Terminology Immanuel Kant seperti yang telah digambarkan di depan pun disangkal oleh Nietzsche yang cenderung mengatakan bahwa suatu yang real adalah suatu yang muncul atas kekuatan manusia dalam membuat implementasinya pada fakta, seperti telah disinggung di depan. Ontology Nietzsche ini akan meniscayakan penolakannya pada ajaran positivisme yang dikembangkan oleh Aguste Comte dengan hukum tiga tahapannya yang mengindikasikan bahwa suatu yang real adalah faktual dan ianya dapat diindra, positif dan bersifat eksakta.
Dapat disimpulkan bahwa akal manusia berhadap-hadapaan dengan objek realitas. Realitas dalam hal ini akan menentukan sifat dan corak pengetahuan. Kognisi manusia dibangun melalui realitas-realitas yang dilihatnya melalui penglaman-pengalaman indrawi dan maupun rasional.
C.  Pembagian Akal
Akal merupakan poensi berpikir manusia yang meembedakan dirinya dari makhluk-makhluk lain selainnya. Dengan potensi ini manusia dapat menangkap dan memahami segala sesuatu yang ada, tidak saja dalam realitas material yang bersifat konkret, tetapi juga yang bersifat abstrak metafisik, tidak hanya yang bersifat sederhana tetapi juga yang komplit, tidak saja yang dekat tetapi juga yang jauh, tidak saja yang pragmatis tetapi juga yang idealis. Akal dapat memampukan manusia mengadakan analisis atas segala sesuatu yang dilihat dan diamatinya, sehingga ia pun dapat membuat perbedaan-perbedaan yang jelas dan tegas antara yang baik dan yang buruk, antara yang indah dan yang elok dengan yang jelek dan yang keji menuju pembuatan keputusan bagi tingkah laku yang mesti direalisasikannya dalam kehidupan nyata.
Manusia telah dianugerahkan akal oleh Allah SWT agar ia dapat membedakan mana yang baik mana yang buruk untuk melakukan pemilahan dan pemilihan berbagai aktivitas untuk pengembangan humanitasnya. Oleh karena itu pula, maka apapun yang dilakukan manusia semata-mata karena pilihannya. Manusia diberi kebebasan untuk menentukan arah kehidupannya. Dan karena ia bebaslah, maka ia pun mesti bertanggungjawab atas pilihan-pilihan yang telah dibuatnya untuk dirinya.
Raghib al-l, sfahani mengelompokkan akal ini ke dalam dua bentuk , yakni akal yang Allah SWT sendiri menciptakan dan memuliakannya. Akal bentuk ini dikategorikannya sebagaii akal yang tidak memiliki kaitan dengan manusia. Wujudnya berupa jawhar.
Adapun bentuk akal yang lainnya, adalah akal yang memiliki kaitan dengan manusia. Akal bentuk inilah yang dinamakan oleh Raghib al-l, sfahani dengan akal gharizi (potensi) dan mustafad (diupayakan). Yang pertama merupakan daya kesiapan seseorang untuk menerima ilmu pengetahuan, sedangkan yang kedua merupakan akal yang dapat menguatkan akal pertama
D.  Strategi Pengembangan Intelektual
Pengembangan akal meniscayakan penyesuaian dengan jenis keilmuan yang menjadi orientasi dan ataupun kecenderungan subjek belajar. Ketika subjek belajar berkonsentrasi pada bidang skil dan vokasional ataupun yang bercorakkan pengetahuan kealaman yang bersifat objektif, maka pengembangan akal yang dibutuhkan tentulah yang bernuansakan berpikir positivistik yang akan melihat sesuatu dalam konteks pengamatan dan keterukuran secara ketat.
Manusia selalu menyatu dengan alam dan sekaligus juga mengambil jarak dengannya. Sehingga dengan demikian manusia dapat mengamati, merenung dan memberikan penilaian terhadap alam, yang menjadikan dirinya memiliki konsep tentang alam sedemikian rupa sehingga ia pun dapat menelaah, mengelola, mengorganisir, mengatur dan memimpin alam untuk kebutuhan humanitasnya. Kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sebagai bukti nyata adanya interaksi manusia dan alam realitas.
Dari gambaran esensi dan eksistensi akal sebagai wadah utama intelektual manusia di atas, yang mesti menjadi perhatian utama dalam pengembangannya adalah bahwa akal manusia memerlukan kondisi jiwa yang benar-benar dapat mendukung bagi penumbuh-kembangannya. Dengan demikian menciptakan kondisi yang nyaman bagi pengembangan intelektual manusia merupakan suatu keniscayaan bagi upaya pengembangannya. Berikut akan dibahas hal-hal yang mesti menjadi pertimbangan pokok dalam strategi pengembangan intelektual manusia :
1.    Memberikan Kebebasan Berpendapat
Kebebasan adalah salah satu kebutuhan mendasar dalam diri manusia untuk bisa bereksistensi di dunia. Akal sangat membutuhkan ekspresi pemikiran yang dibentangakan secara leluasa agar tidak terganggu oleh hal-hal lain yang tidak diperlukan.
Dalam melaksanakan aktivitas ini akal manusia membutuhkan keleluasaan dirinya dalam mengendalikan berbagai realitas yang ada agar keputusannya benar-benar didasarkan pada kebenaran-kebenaran yang dimunculkan dari realitas, bahkan sesuatu dari sesuatu yang lain diluar dirinya. Hal ini meniscayakan akal membutuhkan kebebasan yang memang merupakan kondisi yang dibutuhkan oleh seseorang yang dituntut bertanggungjawab atas apa saja yang ia lakukan.
Pembinaan akal pikiran manusia agar berkembang dapat dilakukan dengan memberikan kebebasan bagi subjek didik agar ia dapat mendeskripsikan segala sesuatu secara leluasa apa adanya, meneliti, menelaah dan menyimpulkan ragam realitas yang menjadi fokus kajiannya agar subjek didik dapat membuat keputusan-keputusan yang akan memperkokoh pilihannya.
2.    Melatih Berpikir Konsekuensi
Sebuah tindakan yang dilakukan atas dasar pertimbangan yang jeli terhadap berbagai konsekuensi yang bakal muncul dapat akan dapat membuat prediksi hal-hal kemungkinan yang dapat dilakukan untuk mengatasi berbagai problem dalam kehidupan. Dengan demikian dapat diktakan bahwa seseorang yang terlatih dapat berpikir konsekuensi , akan lebih teliti, waspada menghadapi masa depan , akan dapat membaca peluang-peluang yang menyegarkan bagi kehidupannya yang kesemua ini merupakan kebutuhan esensial bagi manusia untuk bereksistensi di dunia, sehingga hidupnya lebih bermakna.
Pendidikan Islam mesti diarahkan untuk dapat membentuk individu-individu yang mandiri yang mampu membuat keputusan-keputusan yang baik bagi dirinya dalam hubungannya dengan kondisi real yang ia hadapi. Untuk merealisasikan harapan seperti ini, memestikan subjek didik memiliki keterampilan berpikir konsekuensi ini.
3.    Melatih Berani dan Bertanggungjawab
Setiap keputusan yang diambil oleh seseorang atas dasar berpikirnya yang dalam dan penuh makna yang mesti ditunjukkannya pula dalam berbagai aktivitas dan tindakan nyata yang sekaligus sebagai bukti bahwa ia bertanggung jawab atas apa yang telah diputuskan sebagai suatu kebenaran. Kondisi ini meniscayakan adanya sikap keberanian memutuskan, keberanian menerima resiko apapun atas keputusannya. Hal ini mesti dilatih dan dibiasakan sedemikian rupa. Menghilangkan kebiasaan lari dari tanggungjawab bukanlah perilaku yang menunjuk pada watak intelektual sebagai lambang esensi bagi wujud kemanusiaan. Dengan demikian dapat dilihat pula dilihat bahwa dalam mengembangkan potensi intelektual manusia meniscayakan pendidikan dan pelatihan keberanian merealisasikan keputusan-keputusan yang akan dapat melatih subjek didik dapat bertanggungjawab.
4.    Melatih Kestabilan Jiwa
Intelek manusia adalah bagian terpenting dari unsur-unsur psikis manusia. Intelek akan dapat bekerja dengan leluasa dalam mencari, menganalisis dan memutuskan suatu persoalan memerlukan adanya kestabilan subjeknya. Jiwa yang stabil akan memberi peluang besar bagi gerak intelektual dalam membuat kesimpulan-kesimpulan tanpa dipengaruhi oleh tendensi-tendensi lain diluar dirinya yang sejati. Oleh karena itu membiasakan kestabilan jiwa sangat diperlukan untuk mendidik daya pikir subjek didik agar dapat berfungsi dengan baik.
Kestabilan jiwa pada prinsipnyaadalah bagaimana seseorang itu mampu mengendalikan dirinya dalam menghadapi berbagai kondisi. Jiwa yang tidak stabil akan menjadikan manusia gampang dalam membuat pertimbangan-pertimbangan dan keputusan-keputusan yang berguna dalam mengisi kehidupannya di dunia. Akal manusia akan dapat bekerja dengan tenang dalam menemukan kebenaran-kebenaran bila jiwa sebagai wadahnya dalam bereksistensi tidak terganggu oleh kehendak-kehendak dan atau keinginan-keinginan yang mengganggu.
Perlu ada latihan berpikir positif tentang segala realitas yang dihadapi , sehingga tidak terdapat bayangan jelek atau buruk tentang sesuatu yang akan memberikan efek kegalauan dan atau ketidak stabilan jiwa yang akann tampak dalam rupa kecemasan yang berlebihan, ketidakpercayaan pada pendapat dan temuan dari dirinya sendiri dan lain sebagainya yang tentu akan dapat membahayakan bagi pendidikan intelektualnya.
5.    Melatih Keteguhan Hati dan Semangat Mencari Kebenaran
Dalam konteks ini akal membutuhkan keteguhan hati dan semangat untuk senantiasa meraih kebenaran. Karena hanya dengan cara demikian dirinya dapat meraih kesadaran dan perhatian yang penuh terhadap objek akal. Sedemikian rupa, sehingga menjadikan akal dapat bekerja dan bereksistensi dengan baik.
Pendekatan yang mungkin ditempuh dalam mengembangkan kemampuan intelektual ini adalah pendekatan problem solving dan kritik sejarah dan fenomena-fenomena sosial, analisis deskripsi dan bagaimana belajar dapat menemukan.
Pengembangan intelektualitas ini dalam banyak variannya tidak dapat berdiri sendiri. Eksistensinya sangat bergantung pula dengan daya jiwa lain, yaitu kekuatan daya indera, imajinasi, bahasa, semangat dan emosi. Oleh karena itu, dalam pengembangannya dalam dunia pendidikan mesti pula memberikn perhatian yang seimbang antara ragam potensi jiwa ini. Biasanya perilaku kerja intelektualitas ini tergambar dari model kerja ilmiah yang selalu ditandai dengan aktivitas-aktivitas :
1)   The Felt Need (Merasakan Adanya Masalah)
2)   Menyadari dan Menegaskan Masalah
3)   Kerangka pikir
4)   Hipotesis
5)   Colecting Of Data (Mengumpulkan Data)
6)   Mengolah Data
7)   Analisis Data
8)   Kesimpulan
BAB IV
Pengembangan Daya Indra Dalam Diri Manusia
A.  Interpendensi Akal dan Indra
Pengalaman manusia selalu terkait dengan realitas yang benar-benar hadir di hadapannya. Melalui sentuhan indrawinya, seseorang dapat merasakan bagaimana realitas itu memiliki makkna substansi dan esensi bagi kehidupannya. Suatu benda dalam alam realitas ini tidak dapat dengan sendirinya menampakkan manfaat dan hakikatnya, kecualli melalui fungsionalisasi akal sebagai daya jiwa lain yang menjadikan segala realitas itu penuh makna dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Pendek kata, realitas material yang tampak dihadapan kita tidak akan menunjukkan artinya bagi manusia, kecuali manusia itu melalui daya persepsi yang ada dalam alam pikiran rasionalnya berupaya untuk menjelaskan kandungan-kandungan maknanya sedemikian rupa sehingga melahirkan pengetahuan-pengetahuan yang berguna bagi kemudahan hidupnya di dunia.
Muhammad Iqbal dalam hal ini menjelaskan, bahwa hidup sesungguhnya adalah melakukan segala sesuatu yang membawa manfaat bagi kehidupan manusia. Islam dalam hal ini memiliki aturan-aturan yang disusun sedemikian rupa, sehingga individu dan masyarakat mana pun yang melaksanakannya akan dapat memperoleh kemajuan yang paling besar dalam kehidupannya menuju pada kesempurnaan manusia.
Akal dan indra merupakan hal yang esensial bagi manusia untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang akan berguna bagi pengembangan kemanusiaan di dunia. Melalui akalnya, seseorang mampu membuat analisis-analisis tentang informasi-informasi yang diterimanya baik dalam bentuk maupun dari sumber datangnya sebuah informasi, sehingga ia dapat menentukan tingkat validitas sebuah informasi. Ini diperlukan oleh manusia untuk membuat penilaian-penilaian atas realitas yang menjadi pusat kajiannya. Berpikir tentang realitas ini sangat diperlukan manusia karena dengan pemikirannya itu, manusia dapat berkreativitas dan berbuat untuk perbaikan dan penyempurnaan dirinya.
Allah dlam firman-Nya surah aal-Nahl ayat 78 berkata :
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kemu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa instrumen penting manusia dalam memperoleh ilmu pengetahuan ada indra dan ada pula akal yang kesemuanya saling melengkapi bagi pengembangan kemanusiaan, karena memang pengetahuan manusia sangat tergantung pada jenis realitas yang akan diungkapnya.
B.  Fungsi Indra dalam Pengembangan Manusia
Indra manusia merupakan pintu gerbaang pertama bagi dirinya untu dapat menangkap dan memahami berbagai realitas yang ada disekelilingnya. Sebagai pintu gerbang, indra manusia tentu memiliki fungsi strategis dalam memasuki berbagai ruang pengalaman dan pengetahuan yang akan berguna bagi dirinya dalam membangun kehidupannya di dunia.
Masing-masing indra yang dimiiki manusia memiliki fungsi dan sistem kerja yang berbeda-beda dan terbatas dalam dirinya, namun kesemuanya itu sangat berguna dalam menentukan cara berada manusia di dunia. Dengan fungsionalisasi indranya manusia akan memiliki kemudahan dalam mengisi kehidupannya yang bemanfaat bagi pengembangan humanitasnya.
Banyak firman Allah SWT yang menjelaskan kepada kita bagaimana indra manusia sangat diperlukan dalam pembentukan humanitas manusia. Hal ini mengingat pengetahuan yang paling sederhana dalam kehidupan manusia berawal dari fungsi indra ini. Dalam surah al-thariq ayat 5 Allah SWT berfirman, yang artinya :
“maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?”
Dalam surah al-Ghasyiah ayat 17-20 Allah SWT juga berfirman, yang artinya :
“Makan apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dari langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaiamana ia dihamparkan?”
Begitu pula dalam surah al-Insan ayat 2 :
“Sesunggunya kami telah menciptakan manusia dari setets mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya. Karena itu kami jadikan dia mendengar dan milihat”
Bila kita amati firman Allah diatas dapat kita pahami, bahwa indra manusia sangat diperlukan bagi manusia untuk bereksistensi di dunia. Dengan indranya menjadikan manusia dapat mengenal dan memahami akan dirinya, lingkungannya, alam dan Tuhannya. Indra manusia yang benar-benar fungsional meniscayakan dirinya akan dapat memperhatikan apa-apa yang diciptakan Tuhan di dunia, sehingga dengannya manusia memiliki banyak informasi tentang realitas yang akan berguna baginya dalam membangun pengetahuan dan pemahaman yang berarti baginya dalam meengisi kehidupannya di dunia. Ini artinya bahwa indera manusia merupakan sumber pengetahuan manusia yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupannya.
Menempatkan pendidikan indera sebagai pendidikan tahap awal atau dasar bagi pengembangan kemanusiaan meruapakan suatu keniscayaan. Hal ini disebabkan oleh karena pengetahuan inderawi merupakan pengetahuan yang lebih jelas, objektif dan lebih gampang diterima kebenarannya oleh semua tingkat perkembangan manusia.
Dengan bantuan indera pula manusia akan dapat melihat beagam fenomena kehidupan yang meniscayakan dirinya membuat respon-responn yang memungkinkan ia memilih dan melibatkan dirinya pada sesuatu yang dapat mendatangkan manfaat bagi dirinya dan berupaya melepaskan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya. Ini berarti indera sangat berguna bagi pengembangn watak kemanusiaan yang memang berdimensi moral.
C.  Indra dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Pada prinsipnya, tahapan pengetahuan dapat dimulai dari yang bersifat permukaan yang sifatnya sederhana sampai pada pengetahuan yang benar-benar didasarkan pada kaedah ilmiah dalam suatu kajian keilmuan. Realitas yang paling rendah adalah benda-benda yang bersifat fisiko kosmis dengan cirinya yang dapat dengan mudah dicapai oleh indra manusia. Realitas yang seperti ini bersifat materi yang determistik sehingga bisa diamati, diukur dan diverifikasi sedemikian katanya. Aksi reaksinya pun dapat pula diduga secara objektif dan bahkan mata rantai logikanya pun jelas. Namun demikian eksistensinya yang determistik ini, menjadikan campur tangan eksternal sangat menentukan.
Pada dasarnya pengembangan ilmu pengetahuan merupakan upaya sistematis dan terstruktur yang dilakukan oleh manusia dalam menguak rahasia-rahasia fenomelogis yang ditampakkan oleh alam realitas seperti yang telah diungkap di atas. Oleh karena itu, pengembangan ilmu pengetahuan sangat tergantung pada upaya-upaya terbatas yang dilakukan oleh manusia dalam memandang realitas.
Pengetahuan manusia yang bersumber pada kekuatan inderanya semata telah dikembangkan oleh aliran positivistic yang mengandaikan bahwa suatu pengetahuan mesti berangkat dari fakta-fakta yang terverifikasi dan terukur secara ketat. Artinya, bahwa suatu yang real adalah sesuatu yang bersifat faktual yang identitasnya dapat diamati dan dapat diukur secara statistika.
Paul Davis seperti dikatakan oleh Louis Leahy menyebutkan bahwa kelahiran ilmu fisika baru telah dibarengi oleh pertambahan minat yang luar biasa besarnya terhadap implikasi-implikasi filosofis yang paling dalam dari ilmu pengetahuan sendiri. Dari pengkajian-pengkajian ilmu pengetahuan tidak semata-mata seperti yang dikembangkan oleh positivistic saja, tetapi telah meluas bahkan telah mengikutkan kajian-kajian metafisika yang selama ini telah terbaikan dalam kancah pengembangann ilmu pengetahuan.
D.  Fungsionalisasi Alat Indra Manusia
Firman Tuhan dalam surah al-Tin ayat 4 yang menyebutkan , bahwa manusia diciptakan Tuhan sebaik-baik bentuk, memberi isyarat bahwa manusia adalah makhluk yang temulia. Hal ini ditandai dengan dianugerahkan-Nya manusia potensi untuk mengembangkan diri dan kemanusiaannya. Potensi-petensi tersebut merupakan modal dasar manusia dalam menjalankan berbagai fungsi dan tanggungjawab kemanusiannya sebagai mu’abbid, khalifah fi al-ardh, dan immarah fi al-ardh. Potensi-potensi ini akan berkembang dan sempurna sehingga menjadi aktual dalam kehidupan mestilah melalui upaya kependidikan.
Barbara K Given dalam bukunya Brain Based Teaching menyebutkan bahwa pembelajaran fisik sebagai aksi lingkungan fisik terhadap anak dan atau alih-alih aksi anak terhadap lingkungan sangat memberikan kesan reflek otomatis yang memunculkan kesan yang mendalam bagi anak yang mengalaminya. Oleh karena itu, pembelajaran yang memicu lahirnya respon-respon reflektif, perlibatan proses interaksi anak didik dengan lingkungan untuk mengembangkan pengetahuan dan pengalaman baru atau untuk mengungkapkan ragam emosi atau konsep. Fungsionalisasi indera dengan melibatkan diri subjek didik dengan lingkungan sebagai objek kajian merupakan hal yang penting untuk meningkatkan fungsi indra dalam diri individu dalam menemukan kebenaran-kebenaran dalam alam realitas.
Pemberian dan pengembangan ilmu pengetahuan dengan melibatkan fungsi-fungsi inderawi manusia merupakan suatu yang lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Perlibatan fungsi mata, hidung, kulit dan lidah sebagai sumber pengetahhuan lebih sederhana dari pada penggunaan indera telinga. Oleh karena itu, perlu ada upaya penyeimbangan antar indera agar dalam upaya pengembangan humanitas manusia tidak terjadi kejenuhan dan pembosanan.
Dalam mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan ini diperlukan daya nalar yang baik. Daya nalar akan menjadi baik apabila selalu berhadapan dengan bebagai permasalahan yang mesti diatasi. Oleh karena itu memupuk kepekaan subjek didik terhadap dunia realita merupakan suatu kemestian dalam mengembangkan sumber daya manusia dalam islam.
Apabila kita analisis pula kata fu’ad (nalar) dengan merujuk firman Allah QS, 28:10, “dan menjadi kosonglah fu’ad (nalar) ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang musa seandainya tidak Kami teguhkan hatinya supaya ia termasuk orang-orang yang beriman” tampaknya ada hubungan signifikan fu’ad (nalar) dan hati (qalb)
Perilaku eduktif yang dapat ditempuh seorang pendidik dalam gerak fungsionalisasi indra ini umpamanya sebagai berikut :
1.    Membuat objek kajian
Hidup dapat diartikan bagaimana seseorang itu dapat membuat perubahan-perubahan. Peubahan itu dapat terjadi melalui pemikiran cerdas manusia dalam menyelesaikan berbagai rintangan dan permasalahan yang ada. Penyelesaian masalah sangat tergantung pada pada penyesuaian diri dengan berbagai realitas dalam pengalaman-pengalaman. Oleh karena itu pendidikan mesti dapat memberikan materi pelajaran yang dapat membawa subjek didik mampu menyesuaikan dirinya dengan situasi kondisii kehidupan nyata yang dengannya subjek didik itu dapat pula meningkatkan kualitas dirinya melalui upaya memperkuat dan meningkatkan pengalaman-pengalaman moral.
Ada banyak ralitas yang dapat diperhatikan oleh seseorang untuk membangun pemahaman dan pengetahuannya. Menjadikan realitas itu sebagai objek kajian merupakan hal penting dalam membiasakan seseorang peka terhadap berbagai persoalan yang ada disekitarnya. Kepekaan terhadap realitas ini membantu peranan rasio manusia yang memang mesti menjadi perhatian dalam pengembangan sumber daya manusi, karena fungsinya yang dapat menjembatani relasi individu-individu dengan lingkungannya.
2.    Mengubah informasi menjadi cerita yang menarik
Salah satu kecerdasan yang dibutuhkan manusia dalam bereksistensi di dunia adalah bagaimana kemampuan merekamenceritakan apa-apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka lihat, yang mereka dengar dan lain sebagainya sedemikian rupa, sehingga dapat menjadi serangkaian informasi yang saling berhubungan. Kemampuan ini penting tidak saja untuk mendeskripsikan pengetahuan yang diperolehnya, tetapi juga menyangkut keterampilan mengkomunikasikan berbagai informasi yang diterimanya secara inderawi dalam bahasa yang gamblang dan logis.
Kemampuan menceritakan kembali dengan bahasa yang baik dan jelas merupakan indikasi bagi berfungsinya intelek subjek didik dalam mengingat kembali setiap peristiwa yang ia alami dan atau yang ia lihat di sekitarnya dan berpikir bagaimana agar orang lain juga dapat memahami apa yang telah ia alami secara baik.
3.    Membuat poster sebagai produk seni
Untuk menggambarkan realitas yang mendapat sentuhan inderawi tidak mesti hanya melalui bahasa seperti yang telah di ungkap di atas, tetapi juga dapat diungkapkan lewat gambar, lukisan atau poster. Membuat poster ini dapat melatih anak mengekspresikan apa-apa yang dia lihat dan ia rasakan dalam bentuk karikatur, lukisan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, seorang guru dapat pula mengajar dan melatih subjek didiknya untuk membuat daya ingat mereka dalam melukiskan kembali segala sesuatu yang telah mereka lihat, bahkan mungkin yang telah ada dalam ruang persepsi mereka.
Subjek didik yang telah memiliki kemampuan menjelaskan dan atau melukiskan realitas-realitas yang ia alami secara baik, ditambah pula dengan daya imajinatif yang memadai, maka akan memungkinkan anak didik untuk membuat manifulasi kondisi real dengan kondisi lain yang lebih indah dan lebih sempurna dari yang ia lihat. Kemampuan manifulasi dan penyempurnaan ini memerlukan kemampuan daya imajinasi yang baik. Membuat poster dan atau gambar tentang berbagai peristiwa yang ia lihat merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya imajinasi ini.
4.    Melakoni berbagai peristiwa sejarah penting
Menggambarkan suatu fenomena sosial yang terdapat dalam kehidupan masyarakat dalam bentuk cerita, dapat menyentuh syaraf-syaraf indrawi manusia secara maksimal. Hal ini akan lebih dapat diserap oleh anak didik yang bertugas melakoni peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam skenario cerita. Melakoni, menikmati dan mendengarkan sebuah alur cerita dapat merangsang cita rasa, emosi anak didik untuk masuk dalam sistem cerita, sehingga seolah-olah merekalah yang menjadi subjek dalam cerita itu. Pengembangan indra anak di sini akan dapat merangsang syaraf halus mereka untuk menarik konsep hidup dalam cerita pada diri mereka yang akan berguna bagi pengembangan jasmani dan ruhani mereka.
Pendidikan dalam hal ini dimaknai sebagai upaya sadar dalam memberikan latihan kecerdasan dalam menghadapi berbagai tantangan dan persoalan kehidupan, sehingga subjek didik terbiasa aktif mengolah berbagai data dan informasi untuk memecahkan permasalahan hidupnya. Dengan demikian, pendekatan yang dapat di anggap paling sesuai untuk mengembangkan sumber daya manusia disini adalah dengan memberikan latihan berpikir ilmiah dalam rangkan memecahkan berbagai permasalahan (problem solving)
Dari keseluruhan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sumber daya indrawi manusia dapat dikembangkan sedemikian rupa agar eksistensinya dapat membantu daya-daya manusia yang lain seperti intelek, imajinasi, intuisi mereka.

BAB V
Pengembangan Imajinasi dan Intuisi Manusia
A.  Wilayah Imajinasi dan Intuisi dalam Pengembangan Manusia
Imajinasi dan intuisi merupakan dua belahan bagian terpenting dalam diri manusia untuk menemukan sesuatu yang bersifat ruhaniah yang tentunya berkenaan dengan yang non material, sehingga penampakkannya kepermukaan memerlukan upaya latihan jiwa yang memang bersentuhan dengan itu.
1.    Imajinasi
Imjinasi sebagai suatu daya manusia mampu memberikan bayangan-bayangan, harapan-harapan, impian-impian dan upaya merefleksikannya dalam kehidupan. Imajinasi merupakan kondisi jiwa yang memampukan diri manusia membayangkan dan menggambarkan realitas lain berdasarkan suatu realitas yang ada dan memang telah ada.
Kesadaran imajinatif ini merupakan hal penting bagi penyempurnaan kemanusiaan manusia, karena eksistensinya yang dapat membantu akal aktif manusia dalam merumuskan dan melukiskan realitas seperti apa adanya dan membubuhkan sesuatu yang lain sebagai penyeimbang dan ataupun penyempurna sesuai dengan pandangan imajinasinya yang berkembang.
Pengambangan imajinasi ini diperlukan manusia dalam membuat sejarah dan perbaikan-perbaikan taraf kehidupannya di dunia. Hal ini tidak lain mengingat sebuah perubahan sebagai lambang perbaikan kehidupan seseorang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat terkait erat dengan kekuatan daya imajinasinya dalam membuat gambaran-gambaran realitas yang akan dan atau mungkin akan ditempuh selanjutnya.
2.    Intuisi
Pengetahuan intuitif adalah pengetahuan tentang kebenaran yang dianugerahkan Tuhan dari dalam diri manusia yang paling dalam. Pengetahuan intuitif adalah pengetahuan dimana seseorang mendapatkan di dalam dirinya suatu peristiwa insight. Insight atau intuisi itu merupakan peristiwa yang datang secara tiba-tiba tentang suatu ide atau kesimpulan yang dihasilkan melalui proses ketidaksadaran yang panjang. Suatu saat tanpa kita duga dan tanpa kita ketahui sumbernya, tiba-tiba kita melihat adanya solusi terhadap suatu permasalahan yang tengah kita hadapi.
Pengetahuan intuitif adalah semacam pengetahuan yang bersumber pada pengalaman pribadi seseorang yang dalam kebenarannya hanya dapat dirasakan dan dinikmati oleh subjek yang mengalami, sehingga kebenarannya tidak dapat diuji melalui penelitian saintis. Bahkan pengetahuan jenis ini pun sulit dimintakan pada yang bersangkutan untuk mengulangi pengalamannya. Pengetahuan intuitif merupakan pengetahuan yang tidak didasarkan pada analisis rasional, maupun empiris manusia, tetapi lebih didasarkan kepada bagian yang terdalam dalam diri manusia yang lebih umum disebut dengan nurani.
Peristiwa insight yang dialami seseorang yang tampaknya datang dan pergi begitu saja tanpa bekas, sehingga tidak dapat diulang lagi dalam kondisi yang lain yang dialami manusia ini pada prinsipnya merupakan energi spiritual yang membentangkan suatu kebenaran dengan cara yang sulit atau bahkan mungkin tidak dapat dibuktikan secara empiris. Kehadirannya tidak dapat dideteksi dan tidak pula dapat dimintakan. Sedemikian rupa sehingga intuisi sangat bersifat subjektif dan tidak dapat diuji validitas peristiwanya.
B.  Imajinasi Intelektual
Imajinasi intelektual biasa digunakan untuk menyabut suatu kemampuan manusia dalam membuat rumusan-rumusan baru yang tidak atau belum ada sama sekali bahkan mungkin saja menyentuh hal-hal yang mungkin di anggap mustahil pada saat ia berkata atau berpandangan. Kita abil contoh kata-kata Ibn ‘Arabi dalam mengimajinasikan Tuhan dalam pikirannya seperti “aku telah melihat Tuhan dalam bentukNya yang terindah”
Imajinasi intelektual merupakan suatu daya jiwa intelek manusia yang memiliki kemampuan untuk membayangkan alam abstrak dalam rupa yang objektif dalam dunia persepsi, sehingga seolah-olah bayangan itu memang nyata dalam alam realitas.
Komunikasi intelektual manusia dengan objek-objek yang dipahami akan dapat meraih suatu pengetahuan melalui penyatuan eksistensinya dengan substansi akal aktif. Sebagai hasil dari berbagai pengetahuan kita, kita hanya bisa mengatakan bahwa kita mengetahui sesuatu di dunia yang terserap, tetapi bukan melalui perantaraan persepsi ataupun konseptualisasi dan bahkan bukan melalui penampaan dan refleksi yang disengaja, tetapi melalui penyatuan dengan realitas substansi Tuhan yang dalamm Diri-Nya dipenuhi oleh kebenaran yang memancarkan cahaya pengetahuan yang tiada tara.
Dari sini dapat kita pahami bahwa imajinasi intelektual merupakan suatu daya jiwa manusia yang memampukan dirinya untuk melihat sesuatu yang lain yang lebih sempurna dari sekedar rupa yang menampak dalam alam realitas yang terbatas oleh dunia indra manusia. Melalui kemampuan imajinasi intelektualnya, manusia dapat menjangkau realitas spiritual yang dalam yanng menyatukan alam realitas materi dengan alam realitas immateri.
C.  Imajinasi Kreatif
Imajinasi merupakan dunia tengah antara alam realitas yang real dan alam ide yang terdiri dari bayangan figur-figur substansi yang subtil di mana sifatnya materi yang immateri. Dunia ini serial dan seobjektif, sekonsisten dan semandiri dunia akali dan inderawi. Dalam kondisi ini rohani manusia telah meraga dan raganya telah merohani. Organ dunia telah merupakan imajinasi aktif, atau juga dapat disebut dengan imajinasi kreatif.
Kecakapan imajinasi manusia seperti ini dapat difungsikan sebagai wadah untuk menatap dunia tengah dan meningkatkannya ke suatu level di mana pemahaman nyata telah dialihkan menjadi sesuatu yan terselubung dan tidak tampak yang mengarah pada nilai kesejatian, sehingga dimungkinkan untuk memenuhi fungsi yang dapat mengubah suatu realitas menjadi realitas lain yang lebih baik dan sempurna dari sebelumnya. Dalam konteks pemahaman yang seperti ini kemampuan imajinasi manusia dapat membuat perubahan-perubahan manusia kearah yang lebih sempurna.
D.  Intuisi dan Kebenaran Nilai
Kita dapat membedakan pola kerja dan sistematisasi pengetahuan intuisi dari pengetahuan-pengetahuan lainya yang secara logika dapat diterima dan teruji melalui observasi atau eksploitasi atau kedua-duanya. Dapat dikatakan bahwa kendatipun ada banyak ahli yang tentang kebenaran intuisi manusia, namun kita tidak akan mungkin dapat membuat pengujian-pengujian empiris melalui teknik observasi ataupun kalkulasi eksperimentasi, seperti layaknya kebenaran ilmiah yang didasarkan pada hipotesis-hipotesis.
Aliran intuisionisme meyakini bahwa pengetahuan manusia tidak mesti selalu berada pada uji fakta-fakta seperti dalam slogan positisme yang mengatakan bahwa dari ilmu akan muncul prediksi dan dari prediksi akan muncul aksi.
E.  Pendidikan Imajinasi dan Intuisi
Bahasa sebagai operandi cara berada manusia di dunia membutuhkan tidak dapat terungkap secara sempurna jika tidak disentuhkan dengan nilai-nilai imajinasi dan intuisi yang terkontrol dan terpimpin. Oleh karena itu perlu pembinaan yang dapat memampukan subjek didik mengolah imajinasinya dengan baik dapat melengkapi banyak ragam kecerdasan yang lain. Strategi yang dapat ditempuh dalam upaya pendidikan imajinasi dan intuisi ini antara lain :
1.    Mengenal Diri
Hal yang paling mendasar dan terpenting di dalam proses pengembangan potensi imajinasi dan intuisi manusia, adalah mengenal diri sendiri. Hal ini penting bagi upaya mengembangkan kemampuan daya imajinasi dan intuisi ini sedemikian rupa sehingga eksistensinya dapat membawa dunia indria untuk mencapai dunia kalbu. Bahkan pembohongan terhadap realitas pun selalu dikaitkan dengan persoalan hati ini. Allah berfirman umpamanya di dalamm surah Al-A’raf ayat 175, bahwa “mereka mempunyai kalbu tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk meihat”
2.    Belajar Disiplin dan Meningkatkan Rasa Tanggungjawab Etis
Menumbuhkan rasa tanggungjawab sedemikian rupa sangat diperlukan untuk membiasakan seseorang individu untuk selalu berbuat dan berbuat untuk mencapai kesempurnaan. Apapun yang ia putuskan untuk dilakukan ia pun menyadari bahwa itulah yang terbaik dilakukan, sehingga kalaupun ia mengalami kegagalan, maka ia pun tidak akan menyesal dan apalagi untuk putus asa. Sikap seperti inilah yang disebut dengan tanggungjawab etis. Tanggungjawab etis ini merupakan suatu rasa tanggungjawab yang tidak didasarkan pada kehendak-kehendak yang berasal dari hawa nafsu yang memang menghendaki manusia untuk berbuat melampaui batas kebutuhan natural manusia yang sejati.
Rasa tanggung jawab etis ini sangat diperlukan untuk peengembangan daya imajinasi dan intuisi pada diri seseorang agar ia dapat menjangkau kondisi-kondisii abstrak yang relevan dengan realitas yang tengah dihadapinya.
3.    Menempatkan Penderitaan dan Kepuasan Sesuai dengan Esensinya
Penempatan penderitaan dan kepuasan yang berlebihan akan dapat merugikan diri individu dalam mengaktualisasikan dirinya di dunia menuju penyempurnaan-penyempurnaan. Hal ini disebabkan karena kedua fenomena jiwa ini dapat membekukan dan bahkan mungkin dapat menutup pintu hati seorang individu untuk membuat dan keputusan untuk memilih jenis perilaku yang akan dilakukan dalam kehidupannya.
4.    Ikhlas dan Ridha dalam Segala Amal
Perilaku ikhlas dan ridha merupakan tindakan jiwa manusia yang tidak lagi mengharapkan berbagai konsekuensi-konsekuensi dari berbagai aktivitas-aktiviitas yang ia lakukan. Dengan perilaku ikhlas dan ridha ini, seorang individu tidak akan merasa lagi kegelisahan-kegeliisahan dan kecemasan-kecemasan yang akan dapat merusak jiwanya.
Dalam melatih dan menumbuhkembangkan daya imajinasi dan intuisi manusia agar menjadi suatu kekuatan yang dapat melahirkan pengetahuan-pengetahuan imajinatif dan intuitif seperti yang telah digambarkan di depan menjadikan persoalan ikhlas dan ridha ini menjadi bagian terpenting dalam perwujudannya. Hal ini mengingat ketika manusia dalam melakukan sesuatu perkara tidak lagi berharap akan adanya balasan memang tidak mungkin penyatuan dua substansi yang berbeda kecuali dalam alam imajinasi dan intuisi.
5.    Membiasakan Berbuat Baik Kepada Semua Makhluk
Berbuat baik kepada semua makhluk merupakan manivestasi dari sikap lapang dada dan pemaaf yang telah dimiliki jiwa seorang individu dalam menghadapi realitas diluar dirinya. Perilaku ini meniscayakan kontemplasi imajinasinya telah menempatkan yang ghaib dan yang kasat mata, yang rohani dan yang jasmani sebagai satu kesatuan di mana melihat alam yang kasat mata ini sebagai manivestasi kasih Tuhan, sehingga memelihara dan berbuat baik pada semua makhluk-Nya adalah sebuah lambang cinta dan rasa syukurnya pada Tuhan. Hal ini penting bagi pembentukan imajinasi dan intuisi seorang individu karena memang derajat pengalaman spiritual manusia tergantung pada derajat realitas yang dianugerahkan pada bayangan dan begitu pula sebaliknya.

0 komentar:

Posting Komentar