BAB I
Manusia dan Dasar Pengembangan
Perilaku
A. Hakikat Manusia
Sebagi makhluk
Tuhan, manusia memiliki sifat-sifat unik yang memiliki karakteristik tersendiri
yang membedakan dirinya dari makhluk-makhluk lain yang berada di dunia.
Al-Quran memberikan isyarat-isyarat yang menunjuk kepada hakikat manusia,
antara lain termuat dalam surah al-Sajadah ayat 7-9, surah al-Hajj ayat 5,
surah al-An’am ayat 2, surah al-Mukminun ayat 12-16, surah al-Tin ayat 4-6.
Kata-kata umum
yang dipakai untuk menunjuk sebutan diri manusia dalam Al-Quran sangat
bervariasi. Paling tidak, ada tiga istilah yang digunakan untuk menyebut
manusia yaitu insan, al-nas dan basyr. Perbedaaan penggunaan istilah-istilah
inipun tampaknya juga menunjukan pada makna dan hakikat manusia yang berbeda
pula.
Sebagai makhluk
yang memiliki nalar, menjadikan manusia mampu mengamati, mengidentifikasi,
menyatakan, membandingkan dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,
mana yang pantas dan mana yang tidak pantas, apa-apa yang benar dan apa-apa yang
keliru dan salah dan dengannya dapat membuat keputusan-keputusan yang berharga
untuk dirinya dalam rangka pengembangan kemanusiaannya.
Jika dilihat
dari asal katanya ala-nus atau anisa yang berarti jinak memberikan isyarat,
bahwa manusia memiliki potensi untuk mudah beradaptasi dan menyesuaikan diri
dengan berbagai situasi dan lingkungan yang ada dalam alam realitas
kehidupannya. Dengan sifat ini pula menunjukkan, bahwa manusia itu di satu sisi
dapat mengatur, namun di sisi lain ia pun dapat pula diatur yang dengan
sifatnya sedemikian menjadikan manusia dapat diubah ke arah yang lebih baik dan
lebih sempurna.
Manusia dalam
konteks ini dapat dimaknai sebagai makhluk Allah yang memiliki potensi untuk
saling menghormati, mengghargai, hidup rukun, cinta damai dan keharmonisan di
samping juga ramah lingkungan. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa
perselisihan dan pertengkaran di antara manusia serta tindakan manusia yang
dapat merusak tatanan alam semesta adalah semacam penyimpangan natural
kemanusiaan dan atau karena adanya penekanan desakan dan atau pengekangan
potensi humanitas lainnya yang saling mmendesak, sehingga sifat potensial
manusia seperti yang digambarkan dalam makna ini tidak dapat teraktualisasi
dalam tindakan nyata.
Tumbuh kembang
kesadaran dalam diri seseorang memiliki hubungan signifikan dengan daya akal,
hati dan kehendak diri manusia. Bila seseorang memiliki keinginan dan kehendak
untuk mewujudkan sesuatu pada dirinya, maka ia pun akan selalu berusaha
mengaktualisasikannya dalam tindakan. Percepatan tindakan manusia selalu
digerakkan oleh faktor keinginan dan kehendak berbuat ini.
Dalam konteks
ini terlihat, bahwa Al-Quran menunjuk manusia di sini sebgai makhluk psikis
yang memiliki potensi-potensi ruhaniah yang dalam aktivitasnya saling tekait
satu sama lain. Karena memang kesadaran diri memiliki keterkaitan dengan
fungsionalitas akal, hati dan syahwat yang merupakan lambangan ruhaniah manusia
yang menghendaki adanya unsur kebebasan dalam upaya mengaktualisasikannya, maka
potensi ruhaniah ini pun meniscayakan adanya kebebasan manusia dalam bertindak,
sehingga keputusan-keputusan dan atau kesimpulan-kesimpulan yang diperolehnya
dari adaptasinya dengan berbagai realitas di dunia benar-benar dari diri
manusia yang sejati, bukan atas pengaruh orang lain di luar dirinya.
Akal, hati dan
syahwat merupakan tiga kekuatan jiwa dalam diri manusia dimana satu dengan yang
lain tidak dapat dilepaskan begitu saja untuk menunjuk makna dan hakikat
manusia dalam berbagai dimensi. Fungsionalitas ketiga unsur jiwa ini sangat
tergantung pada aspek kesadaran dan kebebasan. Jika akal, hati dan syahwat itu
merupakan kekuatan instrumental. Jadi akal, hati, syahwat, kesadaran dan
kebebasan merupakan unsur jiwa yang sangat esensial dalam pengembangan
humanitasnya.
Manusia dalam
bentuk fisik memiliki proses pertumbuhan dan perkembangan yang sama dengan
tumbuh-tumbuhan dan hewan yang serba material yang menurut ketentuan hukum
natural bersifat terbatas pada ruang dan waktu. Ini berarti bahwa manusia dalam
pengertian ini adalah makhluk yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang
tergantung pada proses alamiah sesuai dengan peredaran waktunya. Manusia tumbuh
dan berkembang dari masa dalam rahim, balita, anak-anak, remaja, dewasa dan
usia lanjut. Untuk menunjak aspek ini, manusia butuh makanan yang mengandung
nutrisi untuk tumbuh dan berkembang seperti juga terdapat pada binatang dan
tumbuhan.
Adapun kata
Al-Nas dipakai dalam al-Quran untuk menunjuk pada komunitas manusia yang
terdiri dari sekelompok orang atau individu dalam berbagai struktur sosial dan
lapisan masyarakat yang mempunyai berbagai kecenderungan, keinginan dan
perilaku dalam mengembangakan kehidupannya. Dalam pengertian ini, manusia
dimaknai dalam pengertian umum yang mencakup kesemua orang tanpa kecuali,
komunitas manusia.
Manusia pada
satu sisi berhadapan dengan dirinya dan di sisi lain ia pun berhadapan dengan
wujud-wujud lain di luar dirinya. Dikatakan ia berhadapan dengan sesuatu di
luar dirinya karena memang manusia itu memiliki jarak dengan dirinya, sehingga
ia selalu melihat dirinya dari sesuatu yang berada diluar dirinya. Bahkan
dengan keluar dari dirinya ini pula, manusia dapat menemukan dirinya sendiri
sebagai suatu person yang tidak tergoyahkan
B. Kebutuhan Dasar Manusia
Dalam
pengembangan humanitas manusia, dapat dianalisis melalui upaya penelaah
kebutuhan-kebutuhan insaniyah dalam merealisasikan dirinya di dunia. Berikut
akan dicoba untuk melihat kebutahan-kebutuhan yang esensial dalam diri manusia
yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengembangan humanistik.
1. Manusia
dan Kebenaran
Manusia ketika
berhadapan dengan dirinya ataupun ketika ia berinteraksi dengan berbagai
realitas diluar dirinya, secara psikologis selalu menempatkan dirinya sebagai
pencari kebenaran, sehingga dengan aktivitasnya sedemikian pula manusia selalu diidentikan
dengan subjek yang senantiasa ingin dan cenderung pada yang baik dan benar.
Dalam islam
istilah kebenaran diungkap dalam beberapa istilah dengan konteks yang berbeda
yang akan menunjuk pada nilai kebenaran itu sendiri. Sebagai contoh dapat
dikemukakan disini kata al-haqq; kata ini memberikan tekanan maknanya pada
kebenaran yang terkait dengan pemilik benar yang sesungguhnya, yaitu Allah SWT.
Kata al-Shidq yang juga berarti benar lebih berkonotasi pada nilai kebenaran
yang memiliki kesesuaian antara apa yangg tebangaun dalam konsep dengan realita
faktual, antara ucapan dan pebuatan, anata keinginann dan kenyataan.
Kebenaran
sesungguhnya telah ada sejak adanya dunia dan ia berada di luar diri manusia.
Manusia bertugas mencari dan menemukannya. Oleh karena itu, kebenaran berada
pada objeknya, bukan subjeknya. Atas dasar ini pulalah barangkali ada pandangan
yang mengatakan bahwa kebenaran itu sesungguhnya akan selalu bersifat
korespondensi antara subjek pencari kebenaran dengan objek sebagai tempat
bersemayamnya data dan informasi yang dapat menghantarkan manusia pada
kebenaran itu.
Manusia dan
kebenaran merupakan dua hal yang identik. Jika ada manusia yang kenyataannya
memilih dan berbuat ketidakbenaran dan atau kesalahan-kesalahan, hal itu
sesungguhnya tidak lain adalah tindakan penyimpangan kemanusiaan di mana saat
manusia dalam melakukan adaptasi keluar dirinya telah disertai oleh
kehendak-kehendak dan dorongan syahwiyah melampaui alam naturalnya, sehingga
yang tidak baik pun dilihat seolah-olah itulah yang terbaik dan mesti
direalisasikan. Oleh karena itu, wajar jika kita melihat seorang anak manusia
telah membuat sebuah kesalahan, maka ia pun akan selalu berusaha untuk
menutupinya walaupun itu melahirkan kejahatan dan atau kekeliruan yang jauh
lebih besar dan bahkan mungkin saja akan terjadi kejahatan beruntun.
2. Manusia
dan Kebebasan Berkehendak
Dalam surah
al-Kahfi ayat 29 umpamanya, Allah SWT menegaskan :
“Dan
katakanlah; kebenaran itu dari Tuhanmu, maka barang siapa yang menghendaki
(beriman) ia akan beriman dan barang siapa yang menghendaki (kafir) ia pun akan
kafir”
Ayat ini memberi
penjelasan kepada kita bahwa sesungguhnya manusia itu memiliki hak kebebasan
dalam membuat keputusan untuk dirinya. Manusia diberi hak untuk memilih atau
menolak suatu pandagan atau konsep yang ditawarkan. Kebebasan manusia ini tentu
bermakna bahwa manusia mesti mengaktualisasikan potensi humanitasnya sedemikian
rupa agar apa yang ia putuskan dan ia lakukan benar-benar di dasari oleh
pertimbangan yang dapat dipertanggung jawabkan secara syar’iy, ilmu dan moral.
Orang-orang yang zalim, orang-orang pendusta dang orang-orang pengingkar
realitas karena lebih mengutamakan kepentingan diri dan ataupun kelompoknya
dari pada kebenaran, kebaikan dan kebajikan yang sejati, maka mereka itu tidak
mungkin memperoleh kebenaran, kebaikan dan kebajikan sejati yang tentu akan
berguna bagi manusia dalam mengisi kehidupannya di dunia.
Dalam membuat
pilihan dan keputusan-keputusan yang berharga untuk menjalani kehidupannya,
manusia membutuhkan kebebasan berkehendak, sehingga apapun keputusan yang ia
ambil datang dari dirinya yang sejati, sehingga tidak ada satu pun yang dapat
mempertanggung jawabkan perilakunya kecuali dirinya sendiri. Kebebasan yang di
maksut disini bukanlah kebebasan syahwiyah yang selalu memiliki kecenderungan
untuk berbuat melampaui alam natural manusia yang sejati, tetapi lebih pada
yang rasional yang memang memiliki watak kebenaran, kebaikan dan kebajikan,
dimana ketika mencari dan mengupayakan kebenaran, kbaikan dan kebajikan itu, ia
tidak dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan di luar objek kajiannya,
termasuk kepentingan dan kecenderungan dirinya sendiri.
3. Manusia
dan Pendidikan
Ayat yang dapat
dirujuk untuk menujuk pentingnya proses panjang untuk mengisi kemanusiaan
adalah firmanAllah SWT dalam al-Quran surah al-Nahl ayat 78:
“Dan
Allah mengeluarkan kamu (manusia) dari perut ibumu belum mengetahui sesuatu
apapun. Dan Dia menciptakan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar
kamu bersyukur”
Ayat di atas
memberikan pemahaman bahwa manusia tidak akan dapat menjadi manusia utuh yang
memiliki ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemudahan kehidupannya, jika ia
belum mampu memaksimalkan fungsi instrumen-instrumen jasmani dan ruhaninya.
Hanya dengan cara demikian seseorang menjadi lebih baik dan memiliki
nilai-nilai kemanusiaan sebagai lambang bagi dirinya.
Pendidikan dalam
hal ini dapat dilihat sebagai tindakan pengupayaan manusia sejatinya,
disengaja, terarah dan tertata
sedemikian rupa menuju pembentukan manusia-manusia yang ideal bagi
kehidupannya, atau dengan kata lain, pendidikan tidak lain adalah segala
pengupayaan yang dilakukan secara sadar dan terarah untuk menjadikan manusia
sebagai manusia yang baik dan ideal.
Lembaga
pendidikan merupakan hal yang strategis untuk pengembangan suatu masyarakat ke
arah yang lebih baik, sehingga tidaknlah berlebihan jika dikatakan bahwa
kemajuan modernitas suatu bangsa dan negara ditentukan oleh kualitas
pendidikan. Karena posisinya yang centre of excellence dalam memmbangun
peradaban suatu masyarakat, maka adalah suatu kemestian untuk menjadikan
lembaga pendidikan sebagai lembaga rekayasa masyarakat ke arah yang lebih baik.
4. Manusia
dan Kehidupan Sosial
Seorang anak
manusia dalam mengembangkan dan mengaktualisasikan kemampuan insaniyahnya, selain
beradaptasi dengan dirinya, ia pun mesti beradaptasi dengan sesuatu di diluar
dirinya termasuk individu-individu atau kelompok-kelompok masyarakat di luar
dirinya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang individu idak dapat
lepas dari kehidupan sosial, baik konteks mikro, mezo ataupun makro. Kondisi
manusia yang sedemikian menjadikan adanya tarik menarik kepentingan individu
dan sosial secara terus menerus yang akan berdampak pada proses perubahan dalam
suatu masyarakat yang terus berlangsung di dunia ini. Perubahan dalam konteks
sosial memberi dampak perubahan model dan cara berpikir seseorang.
Penumbuh
kembangan sikap sosial sebenarnya adalah cita-cita islam, karena sikap
kooperatif akan jauh lebih bersifat membangun daripada sikap kompetitif. Dengan
sikap sosial yang ccerdas, maka seseorang tidak akan nyaman ketika melihat
masih ada yang belum cerdas, sehingga ia pun merasa berkewajiban mendidik dan
menciptakan peluang agar mereka memiliki kesempatan yang luas untuk
mengembangkan dirinya. Begitu pula ketika seseorang itu merasa bahwa ia telah
berkecukupan dalam harta, maka ia pun tidak rela jika masih ada orang-orang
yang belum memilikinya, sehingga ia merassa bertanggung jwab untuk mengadakan
perubahan-perubahan yang mensejahterakan semua orang.
5. Manusia
dan Bahasa
Sebagai makhluk
yang dibedakan dari makhluk lainnya dengan kemampuan yang dimilikinya, yaitu
berfikir, yang meniscayakan ia berbahasa sebagai wujud aktivitasnya, maka tidak
dapat pula dipungkiri bahwa sesungguhnya bahasa adalah juga suatu kondisi yang
tidak dapat dilepaskan dari sebutan manusia.
Manusia adalam
makhluk yang memiliki keinginan, hasrat, cita-cita yang dalam banyak hal
berhubungan dengan orang diluar dirinya, sehingga ia butuh berkomunikasi satu
sama lain yang memestikan ia berbahasa. Tanpa bahasa, dapat dikatakan bahwa
seseorang itu tidak akan dapat mengutarakan keinginan dan hasratnya. Bahkan
banyak pakar yang mengatakan bahwa kesuksesan seorang manusia juga sangat
dipengaruhi oleh kemampuannya berbahasa
6. Manusia
dan Prinsip Keseimbangan
Prof. Mukti Ali
dalam salah satu tulisannya menyebutkan bahwa konotomi yang telah menimpa alam
modenitas pada prinsipnya merupakan indikasi dari konotomi dalam diri manusia
yang selalu tarik menarik satu sama lain. Kondisi semacam ini dapat dilihat
umpamanya bahwa manusia mengakui bahwa dalam dirinya terdapat kelemahan dan
kekurangan namun dalam waktu yang sama ia pun memiliki keinginan untuk
memperoleh kehidupan yang lebih tinggi. Bahkan seringkali manusia itu memilih
yang ia sendiri tidak menyukainya. Kecuali itu, terdapat pula banyak hal yang
tidak berkesesuaian dan mungkin bertentangan dalam kehidupan manusia.
7. Manusia
dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Manusia yang
bertugas sebagai ‘immarah fi al-ardh meniscayakan dirinya mengadakan pencarian
terus-menerus nilai-nilai ilmu pengetahuan yang bermakna dalam konteks
kemudahan kehidupannya di dunia dan di akhirat. Manusia sebagai makhluk yang
memiliki kecenderungan untuk selalu berada dalam kebaikan dan kebajikan,
sehingga adalah suatu niscayaan bagi manusia untuk senantiasa mencari dan mempertahankannya
sebagai miliknya yang hakiki dalam rupa kepribadian.
8. Manusia
dan Moralitas
Moral/akhlak
adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau
kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Kualitas kemanusiaan selalu berkenaan
dengan nilai-nilai moralitas yang teraplikasi dalam kehidupan nyata, baik dalam
kehidupan individual dan sosial, maupun dalam bentuk hubungan dengan alam dan
penciptanya. Eksistensi moralitas ini pun sangat menentukan bagi kualitas
manusia sebagai agen perubahan atau pembuat sejarah.
Merujuk firman
Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 110:
“Kamu
adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah SWT”
Maka ada empat konsep
yang penting yang di cakup di dalamnya, yaitu konsep tentang umat yang baik;
aktivitas sejarah; pentingnya kesadaran; dan etika profetik. Sebagi subjek dan
objek moral, manusia dituntuk memainkan peran proaktifnya dalam rangka
menumbuhkembangkan perilaku moral dalam setiap aktivitas kehidupannya, terlebih
lagi pada aktivitas pembelajaran di sekolah yang memang memiliki fungsi untuk
itu.
Robert L. Ebel
mengungkapkan, bahwa beberapa penyebab terpnggirkannya perhatian pendidikan
sekolah terhadap penumbuhkembangan peilaku moral subjek didikya diantaranya:
1) Bahwa
dalam masyarakat telah terjadi penekanan yang amat kuat terhadap kebebasan
individu daripada tanggung jawab personal
2) Lebih
mementingkan hal-hal sipil daripada kewajiban sipil
3) Adanya
semacam kecenderungan dalam masyarakat
yang melihat perubahan dan inovasi sebagai sesuat yang lebih baik dari
tradisi dan stabilitas di dalam kehidupan
9. Manusia
dan Seni
Seni dalam diri
manusia merupakan suatu kebutuhan dalam berbagai aktivitas agar ia merasa
betah, nyaman dan senang dalam melakukannya, sehingga hasilnya pun dapat
maksimal. Realitas seni selalu berorientasi pada kecantikan keelokan dan atau
keindahan.
Manusia dalam
segala aktiviasnya selalu terkait dengan seni, karena memang mendidik itu
sendiri adalah seni. Dalam keseluruhan aspek kehidupan memang bernilai seni.
Seni dapat melahirkan suasana yang tidak menjenuhkan dan menegangkan yang akan
memunculkan kecemasan-kecemasan yang mengganggu proses pelaksanaan aktivitas
itu sendiri. Pendeknya, seni dan manusia merupakan sesuatu yang tidak dapat
dipisahkan begitu saja, tidak saja karena aktivitasnya yang membutuhkan nilai
estetis, tetapi juga mengingat entitasnya yang memang juga akan memmbangun
semangat kerja dalam diri subjek didik.
C. Manusia, Alam dan Tuhan
Abdurrahman
Saleh Abdullah menyebutkan bahwa Al-Quran menganggap alam, sejarah dan diri
manusia itu sebagai kitab atau buku terbuka yang harus dibaca maknanya. Hal ini
memungkinkan karena memang manusia dilengkapi dengan instrumen-instrumen yang
dapat mengiringnya ke arah sana. Tanggungjawab manusialah menggunakan daya
indra dan kesadarannya sebaik-baiknya agar dapat memberi reaksi terhadap
tanda-tanda kekuasaan Allah di alam jagad raya ini.
Alam sangat
berguna bagi manusia untuk menyusun dan membangun persepsi-persepsinya tentang
berbagai realitas yang akan memberinya pemahaman dan pengetahuan yang akan
memudahkannya dalam menjalani kehidupannya di dunia.
Manusia yang
menyadari bahwa dirinya, alam jagad raya dan Tuhannya merupakan tiga bagian
yang tidak dapat dilupakan begitu saja dalam segala aktivitas kehidupannya,
akan selalu mengorientasikan perilakunya pada keinginan Tuhannya, yakni dengan
menjalankan secara ikhlas segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Dengan demikian terlihat, bahwa manusia tauhid akan selalu mengorientasikan
tindakan-tindakannya baik untuk dirinya, masyarakat maupun alam jagad raya,
pada pendekatan diri dengan Penciptanya. Dalam konteks inilah dapat dikatakan,
bahwa manusia tauhid tidak akan pernah melupakan fungsi eksistnsialitas dirinya
sebagai mu’abbid, khalifah Allah SWT fi al-ardh, dan ‘immarah fi al-ardh.
D. Tugas-Tugas Pokok Manusia
Dalam surah
al-Tin ayat 4 disebutkan bahwa manusia diciptakaan Tuhan sebaik-baik bentuk.
Dengan penciptaan yang baik dan sempurna ini pulalah, menjadikan manusia layak
untuk mengemban misi ilahi, baik sebagai mu’abbid, khalifah fi al-ardh dan
imarah fi al-ardh.
Sebagai mu’abbid
manusia dituntut tidak hanya semata-mata dalam konteks ibadah wajib seperti
shalat, puasa, zakat dan lain sebagainya, tetapi juga bahwa segala sesuatu
aktivitas yang bernilai baik dalam kehidupan manusia yang dilakukan dengan
tujuan pendekatan diri pada Penciptaannya, Tuhan.
Sebagai khalifah
fi al-ardh, manusia bertugas untuk menata dunia sedemikian rupa sehingga dapat
menjadikan manusia sejahtera, damai sentosa dan bahagia. Fungsi khalifah ini
tidak akan dapat berjalan dengan baik jika manusia belum menjalankan fungsi
pertamanya sebagai mu’abbid. Sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi ini,
tentulah berarti manusia memegang tugas menjalankan misi Tuhannya di muka bumi
ini.
Sedangkan imarah
fi al-ardh lebih berkonotasi pada tugas manusia sebagai pengembangan ilmu
pengetahuan yang berguna bagi kehidupan manusia, tidak saja di dunia tetapi juga
untuk akhirat.
Dari uraian di
atas, dapat di simpulkan bahwa fungsi manusia sebagai mu’abbid, khalifah fi
al-ardh, imarah fi al-ardh akan terjelma dalam sejauh mana manusia mampu
menjelmakan sifat-sifat ilahiya ke dalam dirinya yang akan terwujud dalam bentuk
tindakan moral. Dengan demikian manusia adalah lambang humanitas tertinggi dn
karenanya mesti senantiasa dipelihara dan diaktualisasikan dalam
tindakan-tindakan senyatanya.
BAB
II
Potensi
Pendidikan Dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia
A. Hakikat Pendidikan
Ada beberapa
istilah umum yang digunakan untuk menunjuk makna dan hakikat pendidikan islam,
yaitu tarbiyah, ta’dib dan ta’lim. Kendatipun ketiga istilah ini menunjuk pada
orientasi dan pendekatan yang berbeda-beda, namun ungkapannya sering ditemukan
di kalangan pemikir muslim.
Penggunaan
ketiga istilah di atas tentu membawa konsekuensi dan implikasi yang berbeda
pula dalam pelaksanaan dan pengaturan strategi pendidikan itu sendiri. Istilah
tarbiyah umpamanya, dalam pemahamanya memberikan aksentuasi kegiatanya pada
proses pendidikan yang dilakukan dengan sadar dan terprogram, teratur,
sistematis, penuh pertimbangan dan terarah pada suatu tujuan yang jelas.
Sedemikian rupa, sehingga pemakaian istilah ini tentu pula memberikan implikasi
pada pendidikan dalam konteks formal yang merupakan usaha sadar bersama setiap
komponen kependidikan untuk menciptakan situasi dan kondisi edukatif sedemikian
rupa yang dapat memudahkan subjek-subjek didiknya menuju tujuan-tujuan yang
telah ditetapkan berdasarkan tahapan-tahapannya.
Istilah ta’dib
dalamhal ini, memberikan tekanan aktivitasnya pada pemberian pembinaan perilaku
secara umum, sehingga lebih tepat ditujukan untuk menyebut pendidikan dalam
maknanya yang lebih luas, baik dalam bentuk formal, informal maupun nonformal.
Istilah ta’lim
dalam hal ini memberikan tendensi pada proses interaksi edukatif yang dilakukan
seseorang atau sekelompok orang dalam rangka peraihan tujuan-tujuan yang telah
ditentukan. Istilah ta’lim ini sering digunakan untuk tidakan transfer nilai dan
atau pengetahuan dari orang yang dewasa kepada subjek-subjek yang membutuhkan
pengajaran.
Pendidikan dalam
konteks islam adalah segenap upaya sadar bersama yang di arahkan untuk kondisi
edukasional yang mendukung terlahirnya manusia-manusia sejatinya. Dari sini
dapat dipahami, bahwa islam meyakini bahwa proses pendidikan mesti dilakukan
bersama-sama yang dengan kesadaran masing-masing itulah tumbuh rasa tanggung
jawab untuk menciptakan suasana edukasi yang benar-benar efektif dan efisien
bagi pengembangan manusia. Oleh karena itu pulalah dapat dikatakan bahwa dalam
melakukan kegiatan pendidikan, mestilah dengan jalinan kerja antara berbagai
unsur, seperti pemerintah sebagai pengambil kebijakan, masyarakat sebagai
pengguna jasa pendidikan, dan lembaga pendidikan sebagai pelaku pendidikan.
B. Urgensi Pendidikan Bagi Manusia
Ayat yang dapat
dirujuk untuk menunjuk pentingnya proses panjang untuk mengisi kemanusiaan
adalah firman Allah SWT dalam Al-Quran surah al-Nahl, 78 yang artinya :
“Dan
Allah mengeluarkan kamu (manusia) dari perut ibumu belum mengetahui sesuatu
apapun. Dan Dia menciptakan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar
kamu bersyukur”
Ayat diatas
memberikan pemahaman bahwa manusia tidak akan dapat menjadi manusia utuh yang
memilki ilmu pengetahuan yang berguna bagi kemudahan kehidupannya, jika ia
belum mampu memaksimalkan fungsi instrumen-instrumen jasmani dan ruhaninya.
Manusia secara natural melalui instrument yang disediakan untuk menjadikan
dirinya sebagai manusia yang mampu mengamati berbagai realitas, memberikan
perbedaan-perbedaan dan penggolongan-penggolongan serta
interpretasi-interpretasi yang akan berujung pada kesimpulan yang berguna bagi
kesempurnaan dirinya dalam berhadapan dengan realitas.
Pendidikan
merupakan penyediaan kondisi yang baik untuk menjadikan perilaku-perilaku
potensial yang dianugerahkan kepada manusia tidak lagi sebatas kecenderungan
manusiawi an sich, tetapi benar-benar aktual dalam realita kehidupannya.
Sedemikian
berartinya pendidikan bagi pemanusiaan manusia, maka sudah semestinyalah ada
upaya serius untuk menata lembaga pendidikan itu sedemikian rupa agar dapat
dipersiapkan percepatan pencapaian cita-cita luhurnya, yaitu “pemanusiaan”
Lembaga
pendidikan merupakan hal yang sangat strategis untuk pengembangan suatu
masyarakat ke arah yang lebih baik, sehingga tidaklah berlebihan jika dikatakan
bahwa kemajuan modernitas suatu bangsa dan negara ditentukan oleh kualitas
pendidikan. Karena posisinya yang centre of excellence dalam membangun
peradaban suatu masyarakat, maka adalah suatu kemestian untuk menjadikan
lembaga rekayasa masyarakat ke arah yang lebih baik.
C. Moralitas Pendidikan
Moralitas adalah
lambang humanitas tertinggi manusia, karena memang ia diciptakan untuk itu.
Potensi psikis berupa akal, hasrat, kemauan, keinginan dan perasaan mesti
diarahkan untuk mampu berimajinasi, berkreativitas dan membuat
perubahan-perubahan dalam kehidupannya yang berdimensikan nilai-nilai moral
yang tinggi.
Dalam islam, apa
yang menjadi tujuan penciptaan manusia, maka itu pulalah yang menjadi cita-cita
atau tujuan pendidikannya. Mengingat tujuan penciptaan manusia adalah untuk
moral, maka tentu penyempurnaan moralitas adalah juga menjadi tujuan dan
sekaligus hal yang esensial bagi pendidikan itu sendiri.
Sekolah dalam
hal ini dapat dianggap sebagai area yang paling utama dalam proses rekayasa dan
perubahan dari pada lembaga keluarga dan lingkungan. Jadi, sekolah merupakan
instrumen yang paling penting dan efektif untuk percepatan dan pengembangan
suatu masyarakat. Yang msti menjadi perhatian kita semua adalah bahwa sistem
pendidikan sekolah hanya mampu menghasilkan tujuan ideal jika misi sekolah
berkorelasi dengan kebijakan pemerintah yang akan mempercepat terjadinya
akselerasi pembangunan dan pengembangan masyarakat.
Pendidikan yang
dikelola dengan moral, memestikan pengembangannya diarahkan pada pembentukan
kemampuan memahami suatu ilmu pengetahuan yang diiringi dengan kemampuan
pengapresiasian nilai-nilai moral yang ada dalam ilmu pengetahuan tersebut.
Eksistensi
sekolah yang memang memiliki korelasi signifikan dengan tranformasi masyarakat,
menjadikan nilai-nilai moral sebagai identitas manusia, tentunya mesti mendapat
tempat terdepan dalam oriensi dan proses kependidikan sekolah. Realitas
eksistensial seperti ini meniscayakan pendidikan persekolahan selayaknya mesti
menjadikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diberikan senantiasa sebagai
wahana realisasi nilai-nilai moral. Hal ini sangat penting untuk pengembangan
watak manusia dalam menghasilkan budaya selalu bergerak dari interaksinya
dengan kondisi-kondisi yang mengitarinya.
D. Pendidikan dan Nilai
Pendidikan
sebagai suatu kegiatan mulia dalam Islam selalu mengandung nilai-nilai kebaikan
dan kebajikan bagi kemanusiaan, karena memang aktivitasnya selalu hendak
menjadikan manusia sebagai makhluk yang bernilai moral, baik dalam fungsinya
sebagai mu’abbid, khalifah fi al-ardh maupun immarah fi al-ardh. Dalam konteks
pendidikan islam, nilaii-nilai moral keagamaan menjadi bagian integral dalam
setiap gerak usaha kependidikan yang secara struktural formal tidak hanya
tercantum dalam tujuan institusional pendidikan saja, tetapi hendaknya juga
terjalin erat dalam setiap denyut nadi aktivitasnya.
Nilai dalam
konteks Islam terbagi kepada dua hal, yaitu yang tetap dan tidak tetap. Yang
ppertama disebut dengan nilai-nilai yang wajib yang entitasnya telah disepakati
dan jelas; nilai mutlaq, sedangkan yang kedua bersifat fleksibel dan lahir dari
dinamika masyarakat; nilai muqayyad.
Pada hakikatnya,
nilai tidaklah timbul dengan sendirinya, karena ia menunjuk pada sikap
penerimaan atau penolakan seseorang atau sekelompok orang terhadap suatu
realitas hubungan subjek-objek yang prosesnya tidak dapat dilepaskan dari
pengetahuan dan wawasan subjek penentu nilai. Oleh, karena itu, nilai akan
selalu berkembang dan berubah seiring dengan kecenderungan dan sikap mental
individu-individu dalam suatu masyarakat. Hal ini terkit erat dengan upaya
kependidikan sebagai wadah perubahan dan perbaikan perilaku yang secara niscara
akan menentukan sikap hidup seseorang dan masyarakat.
Tujuan
sesungguhnya dari pendidikan moral adalah penyerahan jiwa pada Tuhan. Anak
harus diajar menjaga jiwanya dalam keadaan yang baik, yakni dengan mengisinya
dengan kebesaran Tuhan dan terlepas dari dosa besar. Anak harus mengupayakan
perilaku yang baik dan menghindari yang jahat, bukan karena akal mereka yang
memang menolaknya, tetapi juga karena Tuhan tidak menghendaki perbuatan itu.
Dengan demikian, keinginan mesti dibiasakan untuk membuat pilihan-pilihan nilai
yang baikdan benar untuk dirinya agar ia menjadi subjek yang dapat
mempertanggung jawabkan apa pun yang dilakukannya di dunia ini. Untuk membiasakan
nilai dalam diri seseorang dibutuhkan upaya disiplin untuk mengiliminasi
kebiasaan yang buruk akan mengembangkan kebiasaan yang baik.
Orientasi dan
arah bangun pendidikan sangat terkait dengan pemahaman dan konsep nilai yang
menjadi landasan pengembangannya. Kelompok idealis rasionalis umpamanya akan
mengaksentuasikan upaya-upaya kependidikannya dalam pengembangan kesadaran diri
akan nilai-nilai kebaikan dan kebjakan yang akan berpengaruh dalam kehidupan
subjek didiknya. Kelompok realisme akan memberikan perhatian pendidikan pada
hal-hal yang berkenaan dengan berpikir natural dan realitas. Sedangkan kelompok
pragmatisme lebih mengutamakan hal-hal yang dapat berhasil guna secara praktis
dalam kehidupan nyata.
E. Interaksi Edukasi dan Pengembangan
Watak Insaniyah
Proses
pendidikan identik dengan proses pengembangan yang berorientasi pada upaya
pembangkitan potensi dasar manusia yang biasa disebut dengan watak kemanusiaan
(insaniah). Pendidikan bukan sekedar upaya-upaya yang dilakukan untuk meraih
standar pembelajaran tertentu, tetapi lebih jauh dari itu, bahwa pendidikan
identik dengan upaya mengembangkan keinginan dan dorongan seorang atau
sekelompok orang untuk belajar, sehingga dengan pendidikan memunculkan semangat
ingin tahu dan mempelajari realitas secara terus menerus dengan kata lain,
pendidikan memiliki arti lebih pada proses mengaktifkan potensi-potensi positif
yang dimiliki manusia agar ianya tumbuh dan berkembang sesuai dengan watak
insaniahnya yang sejati. Eksistensinya sangat tergantung pada interaksi yang
dulakukan untuk itu.
Dalam sistem
pembelajaran seseorang senantiasa melibatkan lima sistem yaitu pembelajaran
melibatkan emosional, sosial, kognitif, fisik dan reflektif. Kelima sistem ini
selalu melihatkan hubungan-hunungannya dalam pembentukan proses pembelajaran
dalam diri seseorang. Oleh karena itu dalam membangun interaksi edukatif dalam
setiap proses kegiatan pembelajaran guru mesti mampu memanipulasi keseluruhan
sistem ini secara sedemikian rupa agar subjek didik dapat melakukan proses pembelajarannya
secara baik dan maksimal.
Paling tidak ada
beberapa hal yang dapat dipertimbangkan dalam penanaman nilai pada subjek
didik. Berikut digambarkan hal-hal penting yang secara esensial sangat
menentukan capaian nilai pada subjek didik
1. Pelibatan
Unsur Emosional Dalam Sistem Interaksi Edukatif
Kecerdasan emosi
ini sangat diperlukan oleh subjek didik untuk menumbuhkembangkan rasa kesadaran
dan tanggungjawab yang tinggi dalam melaksanakan apa saja yang memang perlu
dilakukan. Hal ini dapat meningkatkan minat dan motivasi subjek didik untuk
mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan.
2. Interaksi
Edukatif Sebagai Pengembangan Kecerdasan Sosial
Kecerdasan
sosial sebagai kemampuan membina hubungan antar dan interpersonal ini dapat
pula menjadikan seseorang itu memiliki kemampuan dalam mengorganisasi kelompok,
kemampuan menerima perbedaan, kemampuan bekerja sama dengan orang lain,
kemampuan memprakarsai, mengkoordinir, berkolaborasi, serta mampu menciptakan
sinergi dalam menyelesaikan pekerjaan dalam team dan lain sebagainya.
3. Interaksi
Edukatif Dalam Pembelajaran Kognitif
Dalam interaksi
edukatif pemerosesan pembelajaran kognitif ini biasanya dengan melibatkan
unsur-unsur indria subjek didik sedemikian rupa agar dapat membuat
persepsi-persepsi atas berbagai informasi langsung dari realitas dan ataupun
yang hadir dalam rupa bangunan teori-teori.
Interaksi
edukatif dalam pembelajaran kognitif memang menuntut keterampilan guru
mendorong subjek didik untuk melakukan pembelajaran baik melalui
eksperimen-eksperimen maupun dengan pemberian informasi kognitif dan lain
sebagainya yang turut mempercepat terjadinya proses pembelajaran pada diri
anak. Yang jelas, interaksi edukatif mesti diberikan dalam hal ini adalah
bagaimana subjek didik menjadi berupaya dengan serius memperhatikan setiap
interaksi yang diberikan untuknya
BAB
III
Pengembangan
Intelektualitas Manusia
A. Eksistensi Akal dalam Diri Manusia
Lambang utama
kemanusiaan adalah rasionalitas yang meniscayakan fungsionalitas akal dalam
diri manusia. Akal merupakan potensi berpikir manusia yang membedakan dirinya
dengan makhluk-makhluk lain di luar dirinya. Akal memampukan manusia mencerna
dan memahami berbagai tanda-tanda, lambang-lambang yang ada dalam keseluruhan
realitas yang sangat berguna bagi kehidupan manusia itu sendiri. Akal dapat
memperkukuh eksistensi manusia di dunia dalam kaitannya dengan alam semesta dan
Tuhan sebagai sesuatu yang tidak dapat dilepaskan.
Kekuatan akal
ini yang memampukan manusia melakukan perbuatan pemikiran intelek yang
dengannya menjadikan manusia dapat menyadari dan membangun dunianya yang
implikasinya tampak pada rupa perbuatan meyakini , mengakui dan mempercayai
adanya hubungan denpendensidirinya dengan alam dan Tuhan sebagai pencipta.
Dikatakan ia memiliki hubungan dengan alam , karena memang eksistensi dirinya
sebagai makhluk yang berakal dalam aktivitas fungsionalnya memerlukan realitas
objektif yang berada di alam, baik yang berkenaan dengan alam fisik maupun non
fisik yang temuat dalam ruang faktual ataupun historis manusia
Firman Allah
dalam surah Al-Kahfi ayat 29 yang artinya :
“Dan katakanlah
kebenaran itu dari Tuhanmu, maka siapa yang ingin beriman maka tentulah ia akan
beriman, dan siapa menginginkan kafir, maka ia pun akan kafir”
Firman Allah SWT
ini mengisyaratkan bahwa kebenaran yang sesungguhnya (al-haq) itu datang dari
Allah SWT dan oleh karena itu perlu ada prjuangan yang terus menerus dari diri
manusia untuk dekat pada pemiliknya, Tuhan Rabb’ izzati. Tingkat keimanan dan
keyakinan seseorang pada Tuhan Rabb’ izzati sangat tergantung pada
kualitas pemahaman dan pengetahuannya
pada eksistensi Tuhan sebagai maha pencipta dan penguasa di mana hukum-hukum
humanitasdan alah tunduk pada hukum-hukum Tuhan sang pencipta, Iman dalam hal
ini adalah realisasi petunjuk (hudan) Tuhan kepada diri manusia.
Kualitas
humanitas manusia ditentukan oleh kualitas akal sebagai instrument kemanusiaan
dalam mencari kebenaran sejati. Tuhan telah menganugerahkan dua instrument pada
diri manusia untuk mencapai kebenaran, yaitu akal dan Rasul. Akal sebagai
instrumen yang berada di dalam diri manusia itu sendiri, yang dengannya
memampukan dirinya dapat mendeskripsikan, menyatakan, memilah-milah, membedakan
dan menghubungkan berbagai realitas yang kesemuanya sangat berguna dalam
membuat suatu kesimpulan dan atau keputusan sebagai suatu kebenaran. Rasul
merupakan instrumen lain yang dapat menghantarkan dan atau menyampaikan manusia
pada kebenaran dari luar diri manusia.
Pengakuan muslim
bahwa iman adalah realisasi ketauhidan manusia tentulah memiliki implikasi dan
konsekuensi terhadap penegakan nilai-nilai moral yang tingg dan mulia. Penumbuh
kembangan perilaku moral manusia selalu berkenaan dengan sejauh mana ia
menyadari, bahwa perilaku itu harus dilakuakan. Kesadaran dalam hal ini adalah
bukti nyata dari sebuah keyakinan mendalam seseorang atas sesuatu yang dalam
bahasa agam disebut dengan iman.
Eksistensi akal
sangat diperlukan manusia dalam menata kehidupan sedemikian rupa sehingga ianya
dapat menjadi dirinya yang sejati yaitu pribadi yang selalu membina kebaikan
ada dan senantiasa ada dalam dirinya sehingga menjadi pribadi yan sempurna.
B. Akal dan Realitas
Sebagai makhluk
rasional, manusi ditandai dengaan fungsionalisasi daya akal sedemikian rupa
untuk menemukan dan menentukan jati dirinya dalam berhadapan dengan
manusia-manusia lain, alamm dan Tuhan sebagai suatu yang terkait bagi
penyempurnaan dirinya. Pemahaman sebagai lambang aktivitas akal manusia
memestikan akal dirinya berhadapan
dengan realitas. Bahkan ketika manusia hendak mengenal dan memahami
dirinya sendiri, ia mesti menempatkan dirinya sebagai realitas yang akan
menjadi objek kajian akalnya.
Terminology
ontologi Immanuel Kant umpamanya memberikan ketegasan bahwa realitas dalam dua
dikotomi, nomena dan fenomena. Dalam hal ini, teorinya mengindikasikan bahwa
fenomena hanyalah sekedar sesuatu gejala yang tampak di depan subjek, tetapi ia
bukanlah merupakan realitas yang sesungguhnya, karena yang real adalah yang
berada dibelakang dan atau di balik apa yang dilihat dan berada didepan kita.
Itulah yang realitas yang hakiki, nomena.
Terminology
Immanuel Kant seperti yang telah digambarkan di depan pun disangkal oleh
Nietzsche yang cenderung mengatakan bahwa suatu yang real adalah suatu yang
muncul atas kekuatan manusia dalam membuat implementasinya pada fakta, seperti
telah disinggung di depan. Ontology Nietzsche ini akan meniscayakan
penolakannya pada ajaran positivisme yang dikembangkan oleh Aguste Comte dengan
hukum tiga tahapannya yang mengindikasikan bahwa suatu yang real adalah faktual
dan ianya dapat diindra, positif dan bersifat eksakta.
Dapat
disimpulkan bahwa akal manusia berhadap-hadapaan dengan objek realitas.
Realitas dalam hal ini akan menentukan sifat dan corak pengetahuan. Kognisi
manusia dibangun melalui realitas-realitas yang dilihatnya melalui
penglaman-pengalaman indrawi dan maupun rasional.
C. Pembagian Akal
Akal merupakan
poensi berpikir manusia yang meembedakan dirinya dari makhluk-makhluk lain
selainnya. Dengan potensi ini manusia dapat menangkap dan memahami segala
sesuatu yang ada, tidak saja dalam realitas material yang bersifat konkret,
tetapi juga yang bersifat abstrak metafisik, tidak hanya yang bersifat
sederhana tetapi juga yang komplit, tidak saja yang dekat tetapi juga yang
jauh, tidak saja yang pragmatis tetapi juga yang idealis. Akal dapat memampukan
manusia mengadakan analisis atas segala sesuatu yang dilihat dan diamatinya,
sehingga ia pun dapat membuat perbedaan-perbedaan yang jelas dan tegas antara
yang baik dan yang buruk, antara yang indah dan yang elok dengan yang jelek dan
yang keji menuju pembuatan keputusan bagi tingkah laku yang mesti
direalisasikannya dalam kehidupan nyata.
Manusia telah
dianugerahkan akal oleh Allah SWT agar ia dapat membedakan mana yang baik mana
yang buruk untuk melakukan pemilahan dan pemilihan berbagai aktivitas untuk
pengembangan humanitasnya. Oleh karena itu pula, maka apapun yang dilakukan
manusia semata-mata karena pilihannya. Manusia diberi kebebasan untuk
menentukan arah kehidupannya. Dan karena ia bebaslah, maka ia pun mesti bertanggungjawab
atas pilihan-pilihan yang telah dibuatnya untuk dirinya.
Raghib al-l,
sfahani mengelompokkan akal ini ke dalam dua bentuk , yakni akal yang Allah SWT
sendiri menciptakan dan memuliakannya. Akal bentuk ini dikategorikannya
sebagaii akal yang tidak memiliki kaitan dengan manusia. Wujudnya berupa
jawhar.
Adapun bentuk
akal yang lainnya, adalah akal yang memiliki kaitan dengan manusia. Akal bentuk
inilah yang dinamakan oleh Raghib al-l, sfahani dengan akal gharizi (potensi)
dan mustafad (diupayakan). Yang pertama merupakan daya kesiapan seseorang untuk
menerima ilmu pengetahuan, sedangkan yang kedua merupakan akal yang dapat
menguatkan akal pertama
D. Strategi Pengembangan Intelektual
Pengembangan
akal meniscayakan penyesuaian dengan jenis keilmuan yang menjadi orientasi dan
ataupun kecenderungan subjek belajar. Ketika subjek belajar berkonsentrasi pada
bidang skil dan vokasional ataupun yang bercorakkan pengetahuan kealaman yang
bersifat objektif, maka pengembangan akal yang dibutuhkan tentulah yang bernuansakan
berpikir positivistik yang akan melihat sesuatu dalam konteks pengamatan dan
keterukuran secara ketat.
Manusia selalu
menyatu dengan alam dan sekaligus juga mengambil jarak dengannya. Sehingga
dengan demikian manusia dapat mengamati, merenung dan memberikan penilaian
terhadap alam, yang menjadikan dirinya memiliki konsep tentang alam sedemikian
rupa sehingga ia pun dapat menelaah, mengelola, mengorganisir, mengatur dan
memimpin alam untuk kebutuhan humanitasnya. Kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan
teknologi adalah sebagai bukti nyata adanya interaksi manusia dan alam
realitas.
Dari gambaran
esensi dan eksistensi akal sebagai wadah utama intelektual manusia di atas,
yang mesti menjadi perhatian utama dalam pengembangannya adalah bahwa akal
manusia memerlukan kondisi jiwa yang benar-benar dapat mendukung bagi
penumbuh-kembangannya. Dengan demikian menciptakan kondisi yang nyaman bagi
pengembangan intelektual manusia merupakan suatu keniscayaan bagi upaya
pengembangannya. Berikut akan dibahas hal-hal yang mesti menjadi pertimbangan
pokok dalam strategi pengembangan intelektual manusia :
1. Memberikan
Kebebasan Berpendapat
Kebebasan adalah
salah satu kebutuhan mendasar dalam diri manusia untuk bisa bereksistensi di
dunia. Akal sangat membutuhkan ekspresi pemikiran yang dibentangakan secara
leluasa agar tidak terganggu oleh hal-hal lain yang tidak diperlukan.
Dalam
melaksanakan aktivitas ini akal manusia membutuhkan keleluasaan dirinya dalam
mengendalikan berbagai realitas yang ada agar keputusannya benar-benar
didasarkan pada kebenaran-kebenaran yang dimunculkan dari realitas, bahkan
sesuatu dari sesuatu yang lain diluar dirinya. Hal ini meniscayakan akal
membutuhkan kebebasan yang memang merupakan kondisi yang dibutuhkan oleh
seseorang yang dituntut bertanggungjawab atas apa saja yang ia lakukan.
Pembinaan akal
pikiran manusia agar berkembang dapat dilakukan dengan memberikan kebebasan
bagi subjek didik agar ia dapat mendeskripsikan segala sesuatu secara leluasa
apa adanya, meneliti, menelaah dan menyimpulkan ragam realitas yang menjadi
fokus kajiannya agar subjek didik dapat membuat keputusan-keputusan yang akan
memperkokoh pilihannya.
2. Melatih
Berpikir Konsekuensi
Sebuah tindakan
yang dilakukan atas dasar pertimbangan yang jeli terhadap berbagai konsekuensi
yang bakal muncul dapat akan dapat membuat prediksi hal-hal kemungkinan yang
dapat dilakukan untuk mengatasi berbagai problem dalam kehidupan. Dengan
demikian dapat diktakan bahwa seseorang yang terlatih dapat berpikir konsekuensi
, akan lebih teliti, waspada menghadapi masa depan , akan dapat membaca
peluang-peluang yang menyegarkan bagi kehidupannya yang kesemua ini merupakan
kebutuhan esensial bagi manusia untuk bereksistensi di dunia, sehingga hidupnya
lebih bermakna.
Pendidikan Islam
mesti diarahkan untuk dapat membentuk individu-individu yang mandiri yang mampu
membuat keputusan-keputusan yang baik bagi dirinya dalam hubungannya dengan
kondisi real yang ia hadapi. Untuk merealisasikan harapan seperti ini,
memestikan subjek didik memiliki keterampilan berpikir konsekuensi ini.
3. Melatih
Berani dan Bertanggungjawab
Setiap keputusan
yang diambil oleh seseorang atas dasar berpikirnya yang dalam dan penuh makna
yang mesti ditunjukkannya pula dalam berbagai aktivitas dan tindakan nyata yang
sekaligus sebagai bukti bahwa ia bertanggung jawab atas apa yang telah
diputuskan sebagai suatu kebenaran. Kondisi ini meniscayakan adanya sikap
keberanian memutuskan, keberanian menerima resiko apapun atas keputusannya. Hal
ini mesti dilatih dan dibiasakan sedemikian rupa. Menghilangkan kebiasaan lari
dari tanggungjawab bukanlah perilaku yang menunjuk pada watak intelektual
sebagai lambang esensi bagi wujud kemanusiaan. Dengan demikian dapat dilihat
pula dilihat bahwa dalam mengembangkan potensi intelektual manusia meniscayakan
pendidikan dan pelatihan keberanian merealisasikan keputusan-keputusan yang
akan dapat melatih subjek didik dapat bertanggungjawab.
4. Melatih
Kestabilan Jiwa
Intelek manusia
adalah bagian terpenting dari unsur-unsur psikis manusia. Intelek akan dapat
bekerja dengan leluasa dalam mencari, menganalisis dan memutuskan suatu
persoalan memerlukan adanya kestabilan subjeknya. Jiwa yang stabil akan memberi
peluang besar bagi gerak intelektual dalam membuat kesimpulan-kesimpulan tanpa
dipengaruhi oleh tendensi-tendensi lain diluar dirinya yang sejati. Oleh karena
itu membiasakan kestabilan jiwa sangat diperlukan untuk mendidik daya pikir
subjek didik agar dapat berfungsi dengan baik.
Kestabilan jiwa
pada prinsipnyaadalah bagaimana seseorang itu mampu mengendalikan dirinya dalam
menghadapi berbagai kondisi. Jiwa yang tidak stabil akan menjadikan manusia
gampang dalam membuat pertimbangan-pertimbangan dan keputusan-keputusan yang
berguna dalam mengisi kehidupannya di dunia. Akal manusia akan dapat bekerja
dengan tenang dalam menemukan kebenaran-kebenaran bila jiwa sebagai wadahnya
dalam bereksistensi tidak terganggu oleh kehendak-kehendak dan atau
keinginan-keinginan yang mengganggu.
Perlu ada
latihan berpikir positif tentang segala realitas yang dihadapi , sehingga tidak
terdapat bayangan jelek atau buruk tentang sesuatu yang akan memberikan efek
kegalauan dan atau ketidak stabilan jiwa yang akann tampak dalam rupa kecemasan
yang berlebihan, ketidakpercayaan pada pendapat dan temuan dari dirinya sendiri
dan lain sebagainya yang tentu akan dapat membahayakan bagi pendidikan
intelektualnya.
5. Melatih
Keteguhan Hati dan Semangat Mencari Kebenaran
Dalam konteks
ini akal membutuhkan keteguhan hati dan semangat untuk senantiasa meraih
kebenaran. Karena hanya dengan cara demikian dirinya dapat meraih kesadaran dan
perhatian yang penuh terhadap objek akal. Sedemikian rupa, sehingga menjadikan
akal dapat bekerja dan bereksistensi dengan baik.
Pendekatan yang
mungkin ditempuh dalam mengembangkan kemampuan intelektual ini adalah
pendekatan problem solving dan kritik sejarah dan fenomena-fenomena sosial,
analisis deskripsi dan bagaimana belajar dapat menemukan.
Pengembangan
intelektualitas ini dalam banyak variannya tidak dapat berdiri sendiri.
Eksistensinya sangat bergantung pula dengan daya jiwa lain, yaitu kekuatan daya
indera, imajinasi, bahasa, semangat dan emosi. Oleh karena itu, dalam
pengembangannya dalam dunia pendidikan mesti pula memberikn perhatian yang
seimbang antara ragam potensi jiwa ini. Biasanya perilaku kerja intelektualitas
ini tergambar dari model kerja ilmiah yang selalu ditandai dengan
aktivitas-aktivitas :
1) The
Felt Need (Merasakan Adanya Masalah)
2) Menyadari
dan Menegaskan Masalah
3) Kerangka
pikir
4) Hipotesis
5) Colecting
Of Data (Mengumpulkan Data)
6) Mengolah
Data
7) Analisis
Data
8) Kesimpulan
BAB
IV
Pengembangan
Daya Indra Dalam Diri Manusia
A. Interpendensi Akal dan Indra
Pengalaman
manusia selalu terkait dengan realitas yang benar-benar hadir di hadapannya.
Melalui sentuhan indrawinya, seseorang dapat merasakan bagaimana realitas itu
memiliki makkna substansi dan esensi bagi kehidupannya. Suatu benda dalam alam
realitas ini tidak dapat dengan sendirinya menampakkan manfaat dan hakikatnya,
kecualli melalui fungsionalisasi akal sebagai daya jiwa lain yang menjadikan
segala realitas itu penuh makna dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Pendek
kata, realitas material yang tampak dihadapan kita tidak akan menunjukkan
artinya bagi manusia, kecuali manusia itu melalui daya persepsi yang ada dalam
alam pikiran rasionalnya berupaya untuk menjelaskan kandungan-kandungan
maknanya sedemikian rupa sehingga melahirkan pengetahuan-pengetahuan yang
berguna bagi kemudahan hidupnya di dunia.
Muhammad Iqbal
dalam hal ini menjelaskan, bahwa hidup sesungguhnya adalah melakukan segala
sesuatu yang membawa manfaat bagi kehidupan manusia. Islam dalam hal ini
memiliki aturan-aturan yang disusun sedemikian rupa, sehingga individu dan
masyarakat mana pun yang melaksanakannya akan dapat memperoleh kemajuan yang
paling besar dalam kehidupannya menuju pada kesempurnaan manusia.
Akal dan indra
merupakan hal yang esensial bagi manusia untuk menemukan kebenaran-kebenaran
yang akan berguna bagi pengembangan kemanusiaan di dunia. Melalui akalnya,
seseorang mampu membuat analisis-analisis tentang informasi-informasi yang
diterimanya baik dalam bentuk maupun dari sumber datangnya sebuah informasi,
sehingga ia dapat menentukan tingkat validitas sebuah informasi. Ini diperlukan
oleh manusia untuk membuat penilaian-penilaian atas realitas yang menjadi pusat
kajiannya. Berpikir tentang realitas ini sangat diperlukan manusia karena
dengan pemikirannya itu, manusia dapat berkreativitas dan berbuat untuk
perbaikan dan penyempurnaan dirinya.
Allah dlam
firman-Nya surah aal-Nahl ayat 78 berkata :
“Dan
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu
pun, dan Dia memberi kemu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu
bersyukur”
Ayat ini
menjelaskan kepada kita bahwa instrumen penting manusia dalam memperoleh ilmu
pengetahuan ada indra dan ada pula akal yang kesemuanya saling melengkapi bagi
pengembangan kemanusiaan, karena memang pengetahuan manusia sangat tergantung
pada jenis realitas yang akan diungkapnya.
B. Fungsi Indra dalam Pengembangan
Manusia
Indra manusia
merupakan pintu gerbaang pertama bagi dirinya untu dapat menangkap dan memahami
berbagai realitas yang ada disekelilingnya. Sebagai pintu gerbang, indra
manusia tentu memiliki fungsi strategis dalam memasuki berbagai ruang
pengalaman dan pengetahuan yang akan berguna bagi dirinya dalam membangun
kehidupannya di dunia.
Masing-masing
indra yang dimiiki manusia memiliki fungsi dan sistem kerja yang berbeda-beda
dan terbatas dalam dirinya, namun kesemuanya itu sangat berguna dalam
menentukan cara berada manusia di dunia. Dengan fungsionalisasi indranya
manusia akan memiliki kemudahan dalam mengisi kehidupannya yang bemanfaat bagi
pengembangan humanitasnya.
Banyak firman
Allah SWT yang menjelaskan kepada kita bagaimana indra manusia sangat
diperlukan dalam pembentukan humanitas manusia. Hal ini mengingat pengetahuan yang
paling sederhana dalam kehidupan manusia berawal dari fungsi indra ini. Dalam
surah al-thariq ayat 5 Allah SWT berfirman, yang artinya :
“maka
hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?”
Dalam surah
al-Ghasyiah ayat 17-20 Allah SWT juga berfirman, yang artinya :
“Makan
apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dari langit,
bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi
bagaiamana ia dihamparkan?”
Begitu pula
dalam surah al-Insan ayat 2 :
“Sesunggunya
kami telah menciptakan manusia dari setets mani yang bercampur yang kami hendak
mengujinya. Karena itu kami jadikan dia mendengar dan milihat”
Bila kita amati
firman Allah diatas dapat kita pahami, bahwa indra manusia sangat diperlukan
bagi manusia untuk bereksistensi di dunia. Dengan indranya menjadikan manusia
dapat mengenal dan memahami akan dirinya, lingkungannya, alam dan Tuhannya.
Indra manusia yang benar-benar fungsional meniscayakan dirinya akan dapat
memperhatikan apa-apa yang diciptakan Tuhan di dunia, sehingga dengannya
manusia memiliki banyak informasi tentang realitas yang akan berguna baginya
dalam membangun pengetahuan dan pemahaman yang berarti baginya dalam meengisi
kehidupannya di dunia. Ini artinya bahwa indera manusia merupakan sumber
pengetahuan manusia yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupannya.
Menempatkan
pendidikan indera sebagai pendidikan tahap awal atau dasar bagi pengembangan
kemanusiaan meruapakan suatu keniscayaan. Hal ini disebabkan oleh karena
pengetahuan inderawi merupakan pengetahuan yang lebih jelas, objektif dan lebih
gampang diterima kebenarannya oleh semua tingkat perkembangan manusia.
Dengan bantuan
indera pula manusia akan dapat melihat beagam fenomena kehidupan yang
meniscayakan dirinya membuat respon-responn yang memungkinkan ia memilih dan
melibatkan dirinya pada sesuatu yang dapat mendatangkan manfaat bagi dirinya
dan berupaya melepaskan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya. Ini berarti
indera sangat berguna bagi pengembangn watak kemanusiaan yang memang berdimensi
moral.
C. Indra dan Pengembangan Ilmu
Pengetahuan
Pada prinsipnya,
tahapan pengetahuan dapat dimulai dari yang bersifat permukaan yang sifatnya
sederhana sampai pada pengetahuan yang benar-benar didasarkan pada kaedah
ilmiah dalam suatu kajian keilmuan. Realitas yang paling rendah adalah
benda-benda yang bersifat fisiko kosmis dengan cirinya yang dapat dengan mudah
dicapai oleh indra manusia. Realitas yang seperti ini bersifat materi yang
determistik sehingga bisa diamati, diukur dan diverifikasi sedemikian katanya.
Aksi reaksinya pun dapat pula diduga secara objektif dan bahkan mata rantai
logikanya pun jelas. Namun demikian eksistensinya yang determistik ini,
menjadikan campur tangan eksternal sangat menentukan.
Pada dasarnya
pengembangan ilmu pengetahuan merupakan upaya sistematis dan terstruktur yang
dilakukan oleh manusia dalam menguak rahasia-rahasia fenomelogis yang
ditampakkan oleh alam realitas seperti yang telah diungkap di atas. Oleh karena
itu, pengembangan ilmu pengetahuan sangat tergantung pada upaya-upaya terbatas
yang dilakukan oleh manusia dalam memandang realitas.
Pengetahuan
manusia yang bersumber pada kekuatan inderanya semata telah dikembangkan oleh
aliran positivistic yang mengandaikan bahwa suatu pengetahuan mesti berangkat
dari fakta-fakta yang terverifikasi dan terukur secara ketat. Artinya, bahwa
suatu yang real adalah sesuatu yang bersifat faktual yang identitasnya dapat
diamati dan dapat diukur secara statistika.
Paul Davis
seperti dikatakan oleh Louis Leahy menyebutkan bahwa kelahiran ilmu fisika baru
telah dibarengi oleh pertambahan minat yang luar biasa besarnya terhadap
implikasi-implikasi filosofis yang paling dalam dari ilmu pengetahuan sendiri.
Dari pengkajian-pengkajian ilmu pengetahuan tidak semata-mata seperti yang
dikembangkan oleh positivistic saja, tetapi telah meluas bahkan telah
mengikutkan kajian-kajian metafisika yang selama ini telah terbaikan dalam
kancah pengembangann ilmu pengetahuan.
D. Fungsionalisasi Alat Indra Manusia
Firman Tuhan
dalam surah al-Tin ayat 4 yang menyebutkan , bahwa manusia diciptakan Tuhan
sebaik-baik bentuk, memberi isyarat bahwa manusia adalah makhluk yang temulia.
Hal ini ditandai dengan dianugerahkan-Nya manusia potensi untuk mengembangkan
diri dan kemanusiaannya. Potensi-petensi tersebut merupakan modal dasar manusia
dalam menjalankan berbagai fungsi dan tanggungjawab kemanusiannya sebagai
mu’abbid, khalifah fi al-ardh, dan immarah fi al-ardh. Potensi-potensi ini akan
berkembang dan sempurna sehingga menjadi aktual dalam kehidupan mestilah
melalui upaya kependidikan.
Barbara K Given
dalam bukunya Brain Based Teaching menyebutkan bahwa pembelajaran fisik sebagai
aksi lingkungan fisik terhadap anak dan atau alih-alih aksi anak terhadap
lingkungan sangat memberikan kesan reflek otomatis yang memunculkan kesan yang
mendalam bagi anak yang mengalaminya. Oleh karena itu, pembelajaran yang memicu
lahirnya respon-respon reflektif, perlibatan proses interaksi anak didik dengan
lingkungan untuk mengembangkan pengetahuan dan pengalaman baru atau untuk
mengungkapkan ragam emosi atau konsep. Fungsionalisasi indera dengan melibatkan
diri subjek didik dengan lingkungan sebagai objek kajian merupakan hal yang
penting untuk meningkatkan fungsi indra dalam diri individu dalam menemukan kebenaran-kebenaran
dalam alam realitas.
Pemberian dan
pengembangan ilmu pengetahuan dengan melibatkan fungsi-fungsi inderawi manusia
merupakan suatu yang lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Perlibatan
fungsi mata, hidung, kulit dan lidah sebagai sumber pengetahhuan lebih
sederhana dari pada penggunaan indera telinga. Oleh karena itu, perlu ada upaya
penyeimbangan antar indera agar dalam upaya pengembangan humanitas manusia
tidak terjadi kejenuhan dan pembosanan.
Dalam mencari
dan mengembangkan ilmu pengetahuan ini diperlukan daya nalar yang baik. Daya
nalar akan menjadi baik apabila selalu berhadapan dengan bebagai permasalahan
yang mesti diatasi. Oleh karena itu memupuk kepekaan subjek didik terhadap
dunia realita merupakan suatu kemestian dalam mengembangkan sumber daya manusia
dalam islam.
Apabila kita
analisis pula kata fu’ad (nalar) dengan merujuk firman Allah QS, 28:10, “dan
menjadi kosonglah fu’ad (nalar) ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia
menyatakan rahasia tentang musa seandainya tidak Kami teguhkan hatinya supaya
ia termasuk orang-orang yang beriman” tampaknya ada hubungan signifikan fu’ad
(nalar) dan hati (qalb)
Perilaku eduktif
yang dapat ditempuh seorang pendidik dalam gerak fungsionalisasi indra ini
umpamanya sebagai berikut :
1. Membuat
objek kajian
Hidup dapat
diartikan bagaimana seseorang itu dapat membuat perubahan-perubahan. Peubahan
itu dapat terjadi melalui pemikiran cerdas manusia dalam menyelesaikan berbagai
rintangan dan permasalahan yang ada. Penyelesaian masalah sangat tergantung pada
pada penyesuaian diri dengan berbagai realitas dalam pengalaman-pengalaman.
Oleh karena itu pendidikan mesti dapat memberikan materi pelajaran yang dapat
membawa subjek didik mampu menyesuaikan dirinya dengan situasi kondisii
kehidupan nyata yang dengannya subjek didik itu dapat pula meningkatkan
kualitas dirinya melalui upaya memperkuat dan meningkatkan
pengalaman-pengalaman moral.
Ada banyak
ralitas yang dapat diperhatikan oleh seseorang untuk membangun pemahaman dan
pengetahuannya. Menjadikan realitas itu sebagai objek kajian merupakan hal
penting dalam membiasakan seseorang peka terhadap berbagai persoalan yang ada
disekitarnya. Kepekaan terhadap realitas ini membantu peranan rasio manusia
yang memang mesti menjadi perhatian dalam pengembangan sumber daya manusi,
karena fungsinya yang dapat menjembatani relasi individu-individu dengan
lingkungannya.
2. Mengubah
informasi menjadi cerita yang menarik
Salah satu
kecerdasan yang dibutuhkan manusia dalam bereksistensi di dunia adalah
bagaimana kemampuan merekamenceritakan apa-apa yang mereka pikirkan, apa yang
mereka lihat, yang mereka dengar dan lain sebagainya sedemikian rupa, sehingga
dapat menjadi serangkaian informasi yang saling berhubungan. Kemampuan ini
penting tidak saja untuk mendeskripsikan pengetahuan yang diperolehnya, tetapi
juga menyangkut keterampilan mengkomunikasikan berbagai informasi yang
diterimanya secara inderawi dalam bahasa yang gamblang dan logis.
Kemampuan
menceritakan kembali dengan bahasa yang baik dan jelas merupakan indikasi bagi
berfungsinya intelek subjek didik dalam mengingat kembali setiap peristiwa yang
ia alami dan atau yang ia lihat di sekitarnya dan berpikir bagaimana agar orang
lain juga dapat memahami apa yang telah ia alami secara baik.
3. Membuat
poster sebagai produk seni
Untuk
menggambarkan realitas yang mendapat sentuhan inderawi tidak mesti hanya
melalui bahasa seperti yang telah di ungkap di atas, tetapi juga dapat
diungkapkan lewat gambar, lukisan atau poster. Membuat poster ini dapat melatih
anak mengekspresikan apa-apa yang dia lihat dan ia rasakan dalam bentuk
karikatur, lukisan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, seorang guru dapat
pula mengajar dan melatih subjek didiknya untuk membuat daya ingat mereka dalam
melukiskan kembali segala sesuatu yang telah mereka lihat, bahkan mungkin yang
telah ada dalam ruang persepsi mereka.
Subjek didik
yang telah memiliki kemampuan menjelaskan dan atau melukiskan realitas-realitas
yang ia alami secara baik, ditambah pula dengan daya imajinatif yang memadai,
maka akan memungkinkan anak didik untuk membuat manifulasi kondisi real dengan
kondisi lain yang lebih indah dan lebih sempurna dari yang ia lihat. Kemampuan
manifulasi dan penyempurnaan ini memerlukan kemampuan daya imajinasi yang baik.
Membuat poster dan atau gambar tentang berbagai peristiwa yang ia lihat
merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya
imajinasi ini.
4. Melakoni
berbagai peristiwa sejarah penting
Menggambarkan
suatu fenomena sosial yang terdapat dalam kehidupan masyarakat dalam bentuk
cerita, dapat menyentuh syaraf-syaraf indrawi manusia secara maksimal. Hal ini
akan lebih dapat diserap oleh anak didik yang bertugas melakoni
peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam skenario cerita. Melakoni, menikmati
dan mendengarkan sebuah alur cerita dapat merangsang cita rasa, emosi anak
didik untuk masuk dalam sistem cerita, sehingga seolah-olah merekalah yang
menjadi subjek dalam cerita itu. Pengembangan indra anak di sini akan dapat
merangsang syaraf halus mereka untuk menarik konsep hidup dalam cerita pada
diri mereka yang akan berguna bagi pengembangan jasmani dan ruhani mereka.
Pendidikan dalam
hal ini dimaknai sebagai upaya sadar dalam memberikan latihan kecerdasan dalam
menghadapi berbagai tantangan dan persoalan kehidupan, sehingga subjek didik
terbiasa aktif mengolah berbagai data dan informasi untuk memecahkan
permasalahan hidupnya. Dengan demikian, pendekatan yang dapat di anggap paling
sesuai untuk mengembangkan sumber daya manusia disini adalah dengan memberikan
latihan berpikir ilmiah dalam rangkan memecahkan berbagai permasalahan (problem
solving)
Dari keseluruhan
uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sumber daya indrawi manusia dapat
dikembangkan sedemikian rupa agar eksistensinya dapat membantu daya-daya
manusia yang lain seperti intelek, imajinasi, intuisi mereka.
BAB
V
Pengembangan
Imajinasi dan Intuisi Manusia
A. Wilayah Imajinasi dan Intuisi dalam
Pengembangan Manusia
Imajinasi dan
intuisi merupakan dua belahan bagian terpenting dalam diri manusia untuk
menemukan sesuatu yang bersifat ruhaniah yang tentunya berkenaan dengan yang
non material, sehingga penampakkannya kepermukaan memerlukan upaya latihan jiwa
yang memang bersentuhan dengan itu.
1. Imajinasi
Imjinasi sebagai
suatu daya manusia mampu memberikan bayangan-bayangan, harapan-harapan,
impian-impian dan upaya merefleksikannya dalam kehidupan. Imajinasi merupakan
kondisi jiwa yang memampukan diri manusia membayangkan dan menggambarkan
realitas lain berdasarkan suatu realitas yang ada dan memang telah ada.
Kesadaran
imajinatif ini merupakan hal penting bagi penyempurnaan kemanusiaan manusia,
karena eksistensinya yang dapat membantu akal aktif manusia dalam merumuskan
dan melukiskan realitas seperti apa adanya dan membubuhkan sesuatu yang lain
sebagai penyeimbang dan ataupun penyempurna sesuai dengan pandangan
imajinasinya yang berkembang.
Pengambangan
imajinasi ini diperlukan manusia dalam membuat sejarah dan perbaikan-perbaikan
taraf kehidupannya di dunia. Hal ini tidak lain mengingat sebuah perubahan
sebagai lambang perbaikan kehidupan seseorang atau sekelompok orang dalam suatu
masyarakat terkait erat dengan kekuatan daya imajinasinya dalam membuat
gambaran-gambaran realitas yang akan dan atau mungkin akan ditempuh
selanjutnya.
2. Intuisi
Pengetahuan
intuitif adalah pengetahuan tentang kebenaran yang dianugerahkan Tuhan dari
dalam diri manusia yang paling dalam. Pengetahuan intuitif adalah pengetahuan
dimana seseorang mendapatkan di dalam dirinya suatu peristiwa insight. Insight
atau intuisi itu merupakan peristiwa yang datang secara tiba-tiba tentang suatu
ide atau kesimpulan yang dihasilkan melalui proses ketidaksadaran yang panjang.
Suatu saat tanpa kita duga dan tanpa kita ketahui sumbernya, tiba-tiba kita
melihat adanya solusi terhadap suatu permasalahan yang tengah kita hadapi.
Pengetahuan
intuitif adalah semacam pengetahuan yang bersumber pada pengalaman pribadi
seseorang yang dalam kebenarannya hanya dapat dirasakan dan dinikmati oleh
subjek yang mengalami, sehingga kebenarannya tidak dapat diuji melalui penelitian
saintis. Bahkan pengetahuan jenis ini pun sulit dimintakan pada yang
bersangkutan untuk mengulangi pengalamannya. Pengetahuan intuitif merupakan
pengetahuan yang tidak didasarkan pada analisis rasional, maupun empiris
manusia, tetapi lebih didasarkan kepada bagian yang terdalam dalam diri manusia
yang lebih umum disebut dengan nurani.
Peristiwa
insight yang dialami seseorang yang tampaknya datang dan pergi begitu saja
tanpa bekas, sehingga tidak dapat diulang lagi dalam kondisi yang lain yang dialami
manusia ini pada prinsipnya merupakan energi spiritual yang membentangkan suatu
kebenaran dengan cara yang sulit atau bahkan mungkin tidak dapat dibuktikan
secara empiris. Kehadirannya tidak dapat dideteksi dan tidak pula dapat
dimintakan. Sedemikian rupa sehingga intuisi sangat bersifat subjektif dan
tidak dapat diuji validitas peristiwanya.
B. Imajinasi Intelektual
Imajinasi
intelektual biasa digunakan untuk menyabut suatu kemampuan manusia dalam
membuat rumusan-rumusan baru yang tidak atau belum ada sama sekali bahkan
mungkin saja menyentuh hal-hal yang mungkin di anggap mustahil pada saat ia
berkata atau berpandangan. Kita abil contoh kata-kata Ibn ‘Arabi dalam
mengimajinasikan Tuhan dalam pikirannya seperti “aku telah melihat Tuhan dalam bentukNya yang terindah”
Imajinasi
intelektual merupakan suatu daya jiwa intelek manusia yang memiliki kemampuan
untuk membayangkan alam abstrak dalam rupa yang objektif dalam dunia persepsi,
sehingga seolah-olah bayangan itu memang nyata dalam alam realitas.
Komunikasi
intelektual manusia dengan objek-objek yang dipahami akan dapat meraih suatu
pengetahuan melalui penyatuan eksistensinya dengan substansi akal aktif.
Sebagai hasil dari berbagai pengetahuan kita, kita hanya bisa mengatakan bahwa
kita mengetahui sesuatu di dunia yang terserap, tetapi bukan melalui
perantaraan persepsi ataupun konseptualisasi dan bahkan bukan melalui penampaan
dan refleksi yang disengaja, tetapi melalui penyatuan dengan realitas substansi
Tuhan yang dalamm Diri-Nya dipenuhi oleh kebenaran yang memancarkan cahaya
pengetahuan yang tiada tara.
Dari sini dapat
kita pahami bahwa imajinasi intelektual merupakan suatu daya jiwa manusia yang
memampukan dirinya untuk melihat sesuatu yang lain yang lebih sempurna dari
sekedar rupa yang menampak dalam alam realitas yang terbatas oleh dunia indra
manusia. Melalui kemampuan imajinasi intelektualnya, manusia dapat menjangkau
realitas spiritual yang dalam yanng menyatukan alam realitas materi dengan alam
realitas immateri.
C. Imajinasi Kreatif
Imajinasi merupakan
dunia tengah antara alam realitas yang real dan alam ide yang terdiri dari
bayangan figur-figur substansi yang subtil di mana sifatnya materi yang
immateri. Dunia ini serial dan seobjektif, sekonsisten dan semandiri dunia
akali dan inderawi. Dalam kondisi ini rohani manusia telah meraga dan raganya
telah merohani. Organ dunia telah merupakan imajinasi aktif, atau juga dapat
disebut dengan imajinasi kreatif.
Kecakapan
imajinasi manusia seperti ini dapat difungsikan sebagai wadah untuk menatap
dunia tengah dan meningkatkannya ke suatu level di mana pemahaman nyata telah
dialihkan menjadi sesuatu yan terselubung dan tidak tampak yang mengarah pada
nilai kesejatian, sehingga dimungkinkan untuk memenuhi fungsi yang dapat
mengubah suatu realitas menjadi realitas lain yang lebih baik dan sempurna dari
sebelumnya. Dalam konteks pemahaman yang seperti ini kemampuan imajinasi
manusia dapat membuat perubahan-perubahan manusia kearah yang lebih sempurna.
D. Intuisi dan Kebenaran Nilai
Kita dapat
membedakan pola kerja dan sistematisasi pengetahuan intuisi dari
pengetahuan-pengetahuan lainya yang secara logika dapat diterima dan teruji
melalui observasi atau eksploitasi atau kedua-duanya. Dapat dikatakan bahwa
kendatipun ada banyak ahli yang tentang kebenaran intuisi manusia, namun kita
tidak akan mungkin dapat membuat pengujian-pengujian empiris melalui teknik
observasi ataupun kalkulasi eksperimentasi, seperti layaknya kebenaran ilmiah
yang didasarkan pada hipotesis-hipotesis.
Aliran
intuisionisme meyakini bahwa pengetahuan manusia tidak mesti selalu berada pada
uji fakta-fakta seperti dalam slogan positisme yang mengatakan bahwa dari ilmu
akan muncul prediksi dan dari prediksi akan muncul aksi.
E. Pendidikan Imajinasi dan Intuisi
Bahasa sebagai
operandi cara berada manusia di dunia membutuhkan tidak dapat terungkap secara
sempurna jika tidak disentuhkan dengan nilai-nilai imajinasi dan intuisi yang
terkontrol dan terpimpin. Oleh karena itu perlu pembinaan yang dapat memampukan
subjek didik mengolah imajinasinya dengan baik dapat melengkapi banyak ragam
kecerdasan yang lain. Strategi yang dapat ditempuh dalam upaya pendidikan
imajinasi dan intuisi ini antara lain :
1. Mengenal
Diri
Hal yang paling
mendasar dan terpenting di dalam proses pengembangan potensi imajinasi dan
intuisi manusia, adalah mengenal diri sendiri. Hal ini penting bagi upaya
mengembangkan kemampuan daya imajinasi dan intuisi ini sedemikian rupa sehingga
eksistensinya dapat membawa dunia indria untuk mencapai dunia kalbu. Bahkan
pembohongan terhadap realitas pun selalu dikaitkan dengan persoalan hati ini.
Allah berfirman umpamanya di dalamm surah Al-A’raf ayat 175, bahwa “mereka
mempunyai kalbu tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, mereka
mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk meihat”
2. Belajar
Disiplin dan Meningkatkan Rasa Tanggungjawab Etis
Menumbuhkan rasa
tanggungjawab sedemikian rupa sangat diperlukan untuk membiasakan seseorang
individu untuk selalu berbuat dan berbuat untuk mencapai kesempurnaan. Apapun
yang ia putuskan untuk dilakukan ia pun menyadari bahwa itulah yang terbaik
dilakukan, sehingga kalaupun ia mengalami kegagalan, maka ia pun tidak akan
menyesal dan apalagi untuk putus asa. Sikap seperti inilah yang disebut dengan
tanggungjawab etis. Tanggungjawab etis ini merupakan suatu rasa tanggungjawab
yang tidak didasarkan pada kehendak-kehendak yang berasal dari hawa nafsu yang
memang menghendaki manusia untuk berbuat melampaui batas kebutuhan natural
manusia yang sejati.
Rasa tanggung
jawab etis ini sangat diperlukan untuk peengembangan daya imajinasi dan intuisi
pada diri seseorang agar ia dapat menjangkau kondisi-kondisii abstrak yang
relevan dengan realitas yang tengah dihadapinya.
3. Menempatkan
Penderitaan dan Kepuasan Sesuai dengan Esensinya
Penempatan
penderitaan dan kepuasan yang berlebihan akan dapat merugikan diri individu
dalam mengaktualisasikan dirinya di dunia menuju penyempurnaan-penyempurnaan.
Hal ini disebabkan karena kedua fenomena jiwa ini dapat membekukan dan bahkan
mungkin dapat menutup pintu hati seorang individu untuk membuat dan keputusan
untuk memilih jenis perilaku yang akan dilakukan dalam kehidupannya.
4. Ikhlas
dan Ridha dalam Segala Amal
Perilaku ikhlas
dan ridha merupakan tindakan jiwa manusia yang tidak lagi mengharapkan berbagai
konsekuensi-konsekuensi dari berbagai aktivitas-aktiviitas yang ia lakukan.
Dengan perilaku ikhlas dan ridha ini, seorang individu tidak akan merasa lagi
kegelisahan-kegeliisahan dan kecemasan-kecemasan yang akan dapat merusak
jiwanya.
Dalam melatih
dan menumbuhkembangkan daya imajinasi dan intuisi manusia agar menjadi suatu
kekuatan yang dapat melahirkan pengetahuan-pengetahuan imajinatif dan intuitif
seperti yang telah digambarkan di depan menjadikan persoalan ikhlas dan ridha
ini menjadi bagian terpenting dalam perwujudannya. Hal ini mengingat ketika
manusia dalam melakukan sesuatu perkara tidak lagi berharap akan adanya balasan
memang tidak mungkin penyatuan dua substansi yang berbeda kecuali dalam alam
imajinasi dan intuisi.
5. Membiasakan
Berbuat Baik Kepada Semua Makhluk
Berbuat baik
kepada semua makhluk merupakan manivestasi dari sikap lapang dada dan pemaaf
yang telah dimiliki jiwa seorang individu dalam menghadapi realitas diluar
dirinya. Perilaku ini meniscayakan kontemplasi imajinasinya telah menempatkan
yang ghaib dan yang kasat mata, yang rohani dan yang jasmani sebagai satu
kesatuan di mana melihat alam yang kasat mata ini sebagai manivestasi kasih
Tuhan, sehingga memelihara dan berbuat baik pada semua makhluk-Nya adalah
sebuah lambang cinta dan rasa syukurnya pada Tuhan. Hal ini penting bagi
pembentukan imajinasi dan intuisi seorang individu karena memang derajat
pengalaman spiritual manusia tergantung pada derajat realitas yang
dianugerahkan pada bayangan dan begitu pula sebaliknya.


0 komentar:
Posting Komentar